Kita berkembang dengan cara belajar. Tanpa belajar kita hanya bertumbuh. Saja. Tumbuh tak berkembang sepertinya memenuhi lahan saja. Tak berbuah, berantakan daun jatuh malah. Daun keterlambatan, daun alasan, daun ketidak mam(p)uan, daun ketidak tahuan. Jadi pertanyaannya, lahan itu membutuhkan buah atau hiasan? Karena luar kotak adalah tempat bagi pohon yang berbuah. Sedangkan dalam kotak adalah tempatnya hiasan, pohon yang dibonsai.
Dengan pendekatan fourth law of system thinking, " easy way out always leads back in." Berkembang bisa dimulai dengan belajar keterampilan riil. Nyata yang dimaksud di sini adalah etika kita dalam ruang tempat kita berada sekarang. Jelas tidak etis lah kalau kita ada di sini sedangkan moralitas yang kita pakai dari sana. Semacam, kegiatannya di sini koq patuhnya pada yang di sana. Seperti, udah janji jam sebelas di sini malah mendahulukan pesan antar dadakan dari sana.
Bukankah setiap perangkat ada peruntukannya. Seperti gergaji untuk memotong kayu dan palu untuk memasang pasaknya. Kalau gergaji dipakai untuk memasang pasak dan palu dipakai untuk memotong kayu, lebih baik berganti ruang saja. Daripada merebut kesempatan orang lain yang ingin belajar perkayuan lebih baik pindah ke ruang belajar apologi wacana dialektika, dsj. Kalau bakatnya di sana. Minat kan gak ada, yang ada hanya kesempatan.
Nah.. untuk membuka pintu kesempatan inilah yang butuh dua langkah praktikal yang melampaui wacana kata janji dan justifikasi. Pertama, berhenti lah menunggu hingga waktu yang paling tepat. Tidak pernah ada waktu yang tepat! Yang ada hanyalah yang tepat waktu. Yang ada ya ada. Yang gak ada, gak ada. Kedua, mulai lah sekarang. Agar selesai dan tuntas tepat waktu.