Pagi ini ketika saya tiba di Bakeshop, saya mendengar keluh kesah salah seorang manager yang frustrasi karena ada anak buahnya yang temperamental, ada juga anak buahnya yang sering tidak mengikuti aturan seperti misalnya di sini harus mentaati food safety code seperti kepala harus ditutup topi atau hair net, demikian juga jika berjenggot harus memakai beard net. Ada orang baru bekerja beberapa hari sudah mulai melanggar. Itu membuat si manager agak frustrasi.
Entah mengapa saya merasa banyak sekali orang yang senang ngobrol dan mengadu pada saya. Apakah orang-orang merasa saya itu seorang pendengar yang baik? Saya yakin tidak, coba saja kalau tidak percaya tanya pada Nina, dia pasti protes besar-besaran jika ada orang yang meng-claim bahwa saya pendengar yang baik. hahahaha
Ada seorang ibu-ibu setengah baya, sekitar 20 tahun yang lalu ketika saya masih bekerja di warung roti lapis. Dia selalu menjadi pelanggan pertama yang datang mengunjungi ketika saya membuka pintu dan menyalakan lampu tnada warung mulai buka dan siap untuk melayani. Sekarang saya sungguh merasa berdosa karena saya lupa nama depannya. yang saya ingat dia punya nama keluarga Taba, berdarah Jepang. Setiap pagi dia mampir dan membeli segelas es teh. Iya, hanya Es teh walau kadang dia juga beli cookie, tapi seingat saya jarang sekali. Setiap beli teh, dia biasa berlama-lama ngobrol. Obrolannya segala macam dari cuaca, pengalaman keseharian dia, kesehatan hingga yang agak berbau filsafat. Kalau tidak punya topik, dia selalu bertanya,"Any wise words from you today?" Hahaha.. saya lumayan lama bekerja di sana dan setiap hari dia mampir dan ngobrol.
Beberapa tahun kemudian ketika saya bekerja sebagai bartender, saya punya geng yang selalu duduk ngobrol dari seorang pengacara yang bernama Floyd, penjual asuransi jiwa bernama Kent, oma-oma yang sudah pensiun bernama Louise yang selalu mengenakan kaca mata Louis Vuitton dan jika datang saya akan bantu dia berjalan ke bar, saya tuntun hingga tiba di tempat duduk yang sama yang selalu dia duduki, Rose juga seorang oma yang sudah pensiun, atau seorang wanita setengah baya yang selalu mampir mengendarai Corvette special edition, hingga mantan raja dari Marshall Island, Imata. Terus terang saya tidak ingat topik keluh kesah apa saja yang kami biasa obrolkan. Banyak hal dari kesulitan sehari-hari, harga kebutuhan hidup yang terus meningkat, rumah jompo, hingga soal presiden yang pada saat itu presidennya adalah Obama, salah satu presiden yang pernah duduk di salah satu meja di restoran saya ketika beliau masih sebagai pengacara kondang di Chicago. Mereka semua, "teman-teman" saya itu senang nongkrong berlama-lama ngobrol ngalor-ngidul kadang sampai shift saya hampir usai.
Lama saya berpikir, mengapa banyak sekali orang yang senang berkeluh kesah. Ujung-ujungnya saya akhirnya sadar, bukan karena saya pendengar yang baik, sama sekali bukan. Mereka semua tahu bahwa walau mereka berkeluh-kesah sebanyak-banyaknya bahkan sampai air mata mereka habis, masalah tidak akan terselesaikan kecuali jika mereka menghadapinya dan berusaha menyelesaikan. Nah pertanyaannya mengapa?
Semua orang pernah berkeluh kesah atau sering disebut venting atau bahasa jaman sekarang curhat. Saya yakin banyak yang mengalami ini lalu sesudah lewat kita baru menyesal bahkan marah pada diri sendiri telah melakukan itu. Lalu kenapa kita melakukannya dan kira-kira apa yang sebaiknya kita lakukan jika ada orang yang melakukan itu pada kita?
Orang berkeluh kesah pada dasarnya karena ingin mengurangi level stressnya. Menurut ahli psikologi, melakukan itu merupakan salah satu bentuk mekanisme menghadapi masalah. Hanya saja berkeluh kesah itu ada dua sisi, jika keluh kesahnya positif, maka dapat mengurangi stress tapi sebaliknya jika negatif maka akan menambah masalah, bahkan bisa berakibat buruk pada kesehatan.
Tinggal sekarang bagaimana menghadapi orang yang berkeluh kesah. Kita menggunakan empati atau simpati? Empati mengikut sertakan perasaan sedangkan simpati tidak. Empati itu aktif sedangkan simpati itu pasif.
Berkeluh kesah sebenarnya tidak banyak berguna, menurut penelitian justru mereka yang melakukan itu bahkan menjadikan masalah-masalah dan kejadian-kejadian negatif itu mendekam lebih lama dalam benak kita, kedua katanya enerji buruk atau negatif semakin lama bertahan, apalagi jika kita venting pada orang yang salah maka akan menimbulkan drama yang berkepanjangan.
Lalu sebagai pendengar, apa yang sebaiknya kita lakukan? Katanya sebaiknya kita menggunakan active listening, yaitu tingkah laku atau gestur verbal atau non verbal yang dapat menunjukkan interes dan understanding. Gestur yang tepat adalah duduk berhadapan, maintaining eye contact, menunjukkan postur terbuka (tidak menyilangkan tangan),juga tubuh kita condong ke arah orang yang sedang curhat. Itu contohnya. Kemudian juga kita menggunakan empati bukannya simpati. Empati di sini artinya kita berusaha membayangkan diri sendiri sebagai orang yang bersangkutan, terlibat secara emosi. Sekali lagi empati itu aktif sementara simpati itu pasif. Pada dasarnya kita menunjukkan bahwa kita peduli pada yang bersangkutan.
Kalau dipikir-pikir sebetulnya tidak seru juga jika ada orang yang berkeluh-kesah. Kita sudah punya kesibukan dan masalah masing-masing, tapi sebagai mahluk sosial, kondisi seperti itu tidak pernah bisa dihindari bahkan kita sendiri sering butuh seseorang yang bisa mendengarkan, jadi kita juga harus bisa melakukan hal yang sama. Untungnya saya senang menulis, jadi curhatnya tidak harus ke orang lain, nulis juga bisa dijadikan media curhat hahaha..
foto credit: inc.com