Kalau bicara soal spirit, yang kerap mengata-katakan kata spirit itu yang biasanya yang tidak memahaminya. Yang dikatakan, yang belum selesai di pemikiran; yang dilakukan yang belum selesai di pemahaman. Karena yang sudah, cukup menjadi dan diam; diam dan menjadi.
Bukan sekadar diam. Kalau begitu sih bukan spirit; malahan seiprit. Juga bukan sekadar jadi. Kalau begitu sih bukan spirit; malahan sepirit. Diam yang menjadi dan menjadi yang diam, spiritus itu artinya napas. Napas itu maksudnya irama.
Kalau bicara soal spirit, coba rasakan iramanya apakah menenangkan atau berisik dan apakah menggerakan atau ikut-ikutan. Yang berisik, menggelisahkan ke dalam dan menggusarkan ke luar, jelas bukan spirit; sepirit ini. Yang sekadar ikutan pun jelas bukan spirit; seiprit doang itu.
Yang penuh dengan spirit biasanya diam, seperti gelombang di tengah lautan. Tidak berisik seperti buih-buih pecah tak berdaya yang ikut-ikutan ombak di pesisir pantai. Yang penuh spirit biasanya menjadi, seperti hujan yang menyegarkan. Tidak berisik seperti suara geledek yang ikut-ikutan cahaya petir, sudah nyusul datang telat ngaget-ngagetin pula.
Bukan berarti buih-buih pecah dan geledek itu salah. Malahan mereka itu indah, kalau pas! Estetis dalam proporsi dan etis dalam porsi. Kalau buih lebih banyak dari air, itu larutan cucian kebanyakan deterjen. Kalau suara lebih banyak dari cahaya, itu kentut yang menyesakkan.