Keunikan diri tidak jauh dari kebersamaan ini. Makanya, kebersamaan bukanlah kesamaan dan persamaan bukanlah penyamaan. Mengkhianati kedua prinsip tersebut, hanya ada kecemburuan karena tidak bisa menjadi seperti itu.
Menerima respon lingkungan jadi penting, mendengarkan tanpa menyimpulkan dan urusi urusan sesuai porsi per bagian. Tidak perlu mencari pengetahuan kalau tidak mampu membawanya tanpa ketahuan.
Cukup tahu aja, tidak pernah cukup. Perlu ada nasi, tempe, sambal, lalaban, sepotong paha goreng, sempurna dengan petai bakar. Eh.. malah ke makanan, oke balik lagi ke orientasi awal. Hanya tahu saja, hanya menjadikan sok tahu. Saja.
Yang menjadikan cukup adalah ber(geming). Bertolak belakang namun saling melengkapi dengan, permohonan maaf terbaik adalah (gerak) perubahan perilaku. Kalau sudah tahu, baiklah bertanya juga. Tentu saja dengan spirit berkenalan.
Bukan dengan spirit menguji, apalagi dengan, “spiritnya apa?” Ini sih malah bertanya balik bukannya bertanya juga. Let our not-knowingness based on knowledge and not on ignorance. Artinya, jadikan pengetahuan sebagai pendorong pengembangan bukan malah hambatan usaha sebatas bayaran. Waaa salah ini terjemahannya!