AES509 Meminta AI Bikin Ikigai
leoamurist
Wednesday April 2 2025, 10:40 PM
AES509 Meminta AI Bikin Ikigai

Di bagian what you love masukan soal sifat politis makhluk manusia, zoon politicon. Pada bagian what you are good at masukan kemampuan menentukan posisi, choose the battle wisely. Lanjut bagian what the world need yang diisi dengan menerima realita alih-alih berkeras pada fakta, yang bergaya stoikism. Akhirnya bagian what you can be paid for dengan empty mind mentallity, bukan mindless activity lho ya.

Didapatkan bahwa, job alih-alih work memang terasa menenangkan hanya tidak memenuhkan diri. Itu seperti ketagihan katanya, jadi inget sindiran kita ini kerjawan bukan karyawan karena dibayar untuk kerja bukan dari karya. Lalu bahwa makna, meaning yang malahan memperparah keadaan karena pemaknaan saat ini adalah pemakluman. Disorientasi kronis pemakaian apologi dan justifikasi, penyebabnya.

Di bagian penyimpulan, keempat hal negatif yang dalam arti menyempitkan kapasitas dan mengerdilkan kualitas diri tersebut akan ditranformasi menjadi hal yang positif. Positif dalam arti meluaskan kapasitas dan meningkatkan kapabilitas, yang sebenarnya lebih pas dilakukan dengan transendensi. Karena transformasi sendiri untuk saat ini kurang berkesan, oleh keterjebakan akut dalam keseharusnyaan.

Didapatkan lah narasi seperti ini sebagai ikigai, reason for being hasil kolaborasi dengan AI.

I choose to embrace gratitude, recognizing and appreciating the blessings, experiences, and people in my life, which fosters a sense of contentment and positivity. — Sebagai obat untuk dampak negatif refleks apologetik kita.

By practicing validation, I acknowledge both my own emotions and those of others, creating an environment of understanding and mutual respect. — Kalau ini obat untuk otomatis kita yang terobsesi menjustifikasi.

I seek purpose, aligning my actions with my core values and passions, ensuring that my efforts contribute to a greater meaning beyond just daily tasks. — Sepertinya pengingat, kalau purpose itu berbeda dengan goal.

Finally, I set and pursue goals, giving myself direction and motivation to continuously grow, achieve, and make a meaningful impact. — Ini mendasar, tujuan untuk berjuang dan alasan untuk bertahan.

By integrating these principles into my daily life, I cultivate a mindset that not only enhances my personal well-being but also allows me to inspire and uplift those around me. — Ini sih sentilan utamanya, selama ini kedua hal tersebut selalu luput saking seringnya dikatakan jadi gak kelihatan.

Hmm… kalau AI bisa disandingkan dengan AW, artificial wisdom, bisa terjadi perebutkan sifat kemanusiaan gak  ya? Karena kebijaksanaan imitasi pun merupakan bentuk kebijaksanaan dan kemanusiaan adalah yang perlu dikerjakan aktif dengan otonom, adaptif, dan berguna.

Makanya ada frasa memanusiakan manusia. Sebagai obat dari frasa sumber daya manusia. Educere Vs Educare. “Dan ini soal ruang yang ngepas, bukan soal kesadaran yang lepas.”

Andy Sutioso
@kak-andy   last year
Nulisnya diperbaiki kak Leo: IkigAI 🤗