Protokol Hanya Istilahnya Saja
leoamurist
Monday July 20 2026, 7:03 PM
Protokol Hanya Istilahnya Saja

Yang menggelitik saya adalah bagian tertulis kalau ego itu menuntut dan terburu-buru, sedangkan hati itu sunyi dan tenang. Soalnya, seringkali terjadi situasi "Menuntut dalam diam." Semacam diam-diam menuntut atau bentuk tuntutannya adalah dengan diam.

Lalu dengan penasaran, saya membalikkan urutan "protokol" ini. Mulai dari menjaga niat, yang dijaga adalah niat asli agar tidak bergeser. Karena seringkali terjadi dari niat asli yang ingin menyampaikan sesuatu yang baik, karena direspon orang lain dengan opini yang tidak sesuai selera pribadi berubah jadi niat mempertahankan gagasan sendiri. Dengan cara melawan dan beradu tanggapan, bisa juga dengan cara diam dan membiarkan karena semua akan reda dan jatuh jua seperti dahan kering terabaikan.

Lanjut ke menghadapi dengan jujur, bahwa niat telah bergeser dari ketulusan hati jadi keteguhan ego. Ya, gak apa-apa. Sudah terjadi kan. Hanya, daripada sibuk mengoreksi alias mengorek-ngorek sana-sini demi untuk bertahan di satu tempat yang familiar. Stagnan maju tidak, mundur pun tidak. Yang inginnya diam tenang batin malah jadi diam yang ngebatin. Ujung-ujungnya terjadi kemunduran, padahal niat awalnya adalah kemajuan. Lebih baik, kita fokus kepada langkah selanjutnya yaitu refleksi.

Lah, refleksi kan semacam mundur. Iya, makanya diperlukan untuk melesat maju. Seperti melontarkan biji dengan ketapel, tarik mundur dulu baru lepaskan dan ikhlaskan maju. Sembari biji itu maju melesat terbang ke sasaran yang diharapkan, kita bisa berhenti sejenak dalam diam batin untuk menerima proses maju itu. Karena dengan niat baik, sasaran akan terjangkau. Baik jalurnya itu sesuai selera kita, baik alurnya tidak sesuai selera kita, tetap baik untuk kita pada setiap momen (sebetulnya).

Eits waspada lah, refleksi bukan sembarang refleksi lho. Refleksi bukan prememori, bukan juga merepetisi ekspektasi, apalagi menggebu-gebu mengoreksi. Refleksi itu mengolah pengalaman sendiri, dengan melihat dari mata orang lain. Nah lho, susah kan. Sesusah dorongan untuk menimpali dan memotong perkataan orang lain yang lagi ngomong, kemudian menggunakan satu kata yang tidak sesuai selera kita. Gak sabar untuk menunggu ia selesai bicara, suara ego kita langsung menyambar. Duarrr! Bubar...

Andy Sutioso
@kak-andy   3 hours ago
Kerenn. Sepakat ini... Kita perlu belajar paham juga soal Ego... Karena ini juga sangat berpengaruh sama proses kita berkesadaran... Sejauh saya pahami, Ego itu 'cara kerjanya' bertentangan dengan Jiwa. Nah ini yang seru kalau kita pahami dulu - secara konseptual tentunya. πŸ™πŸΌπŸ˜Š
Andy Sutioso
@kak-andy   3 hours ago
BTW ini AES kak Leo yang ke 510 ya. Hehe... Nomornya belum ditambahkan kak πŸ™πŸΌ