Pembukaan gitu ya?
leoamurist
Saturday July 17 2021, 8:25 AM

Apa yang membawa diri ke jalur pendidikan? Tidak pernah ada keinginan untuk masuk jalur ini. Memang, tidak pernah ada keinginan untuk masuk jalur lain juga. Seperti mengalir saja lah, nanti gimana ya gimana nanti. Karena ada rasa bahwa, yang perlu terketahui akan diketahui tepat waktu.


Terbukti memang, semua proses perjalanan yang mengalir ini terlalui dengan pas. Tidak lebih tidak kurang, lolos saja. Sampai satu titik, merasa kosong. Padahal, dari mengikuti aliran kehidupan banyak sekali masukan penglihatan pengertian pemahaman. Seperti semakin mengetahui malahan semakin sadar kalau diri ini tidak mengerti apa-apa.


Melihat jejak, mengerti tapak. Melihat tapak, mengerti tungkai. Melihat tungkai, mengerti badan. Melihat badan, mengerti yang bukan badan. Dan yang bukan badan ini tidak kelihatan.

Sempat mencoba keluar jalur saja, tidak berbuat apa-apa. Tidak mengalir tidak diam juga, hanya meminimalisasi usaha dan keterlibatan. Memenuhi kebutuhan dasar, tidak perlu yang tidak perlu. Yah, semacam sok jadi pertapa. Semuanya diminimalkan sampai kepada fungsi dasar saja.


Setahun saja bertahan. Realita memanggil lagi, katanya bahkan untuk menjadi minimal perlu simpanan energi maksimal. Karena udara dan idealisme tidak bisa dikunyah telan dan mengenyangkan, katanya lagi. Keluar dari goa atau kandang, akhirnya diri dihadapkan pada pilihan. Bahkan tidak memilih pun pilihan yang berkonsekuensi logis, tidak bisa tidak memilih.


Maka, memlih jalur yang selama ini paling dihindari. Yang selama ini dirasa paling merepotkan, paling enggan untuk dimasuki. Jalur, humanitarian. Lumayan, di tahun di mana bencana sedang marak-maraknya, empat tahunan berhubungan erat dengan dunia pengurangan risiko bencana dalam jalur humanitarian(-isme?).


Istilah-istilah, kapasitas, kerentanan, ancaman. Komunitas, pembelajaran berbasis masyakat, pengelolaan berdasar kearifan lokal. Ketahanan, kelenturan, kesesuaian. Donor, donantur, penerima manfaat. Dan lain-lain dan seterusnya. Dari prinsip intentio dantis sampai sosio politis, ekonomi adalah kunci. Pendidikan adalah dasar.


Semakin mendalami, semakin tenggelam dalam ketidak pastian. Keraguan, ketidak percayaan, sampai kehilangan kepercayaan. Yang pada akhirnya mencapai pencerahan dan menumbuhkan lagi kepercayaan. Percaya bahwa tidak pernah ada yang dapat dipercaya.

Betapa niat baik yang sudah terkelola, bahwa kepedulian membutuhkan pengelolaan. Betapapun manfaaf dan bantuan terjaga dari pemberi kepada penerima. Biarpun pelatihan dan pendampingan sudah rutin dilaksanakan. Juga kepentingan politis cukup bisa diimbangi oleh gerakan microfinance komunitas. Tabiat manusia adalah aspek yang sangat tidak terduga dalam keterdugaannya.


Memang, semua bisa dipetakan. Semua bisa diarahkan. Semua terbaca jelas karakter sistem dan strukturnya. Justru karena itulah, dari semua yang sudah jelas itu malahan tidak jelas; satu yang mana yang akan terjadi di satu waktu satu tempat dan satu kejadian. Seribu kemungkinan terbuka, tak satu pun yang dapat diketahui yang mana akan terjadi dalam satu rentang waktu tertentu. Lagi-lagi, semakin banyak tahu malah semakin menyadari tidak tahu. Semakin terisi, semakin hampa.


Cukup lama kehampaan dengan berbagai bentuknya, penemuannya, bahkan rasanya, menumpuk di dalam diri. Hingga satu waktu semua terangkai seperti diagram Venn yang saling mengiris dan terus mengiris, menemukan satu sendi dari beragam pola pengertian. Pendidikan adalah dasarnya (yang kemudian setelah empat tahun menjalani jalur pendidikan mendapat penglihatan lebih lanjut kalau dasar bukan lah akar, ini bahasan nanti lagi). Pertanyaan besar muncul, lanjut atau cabut? Pindah dunia lagi kah? Sebelum jalur humanitarian(-isme?) ngalir di asketisme, sebelum jalur asketisme ngalir di engineering, maka apakah selanjutnya pendidikan?


Kuartal akhir dua ribu lima belas. Tuntas sudah program pendampingan komunitas-komunitas sadar bencana. Selesai semua sasaran fasilitasi peningkatan resiliensi organisasi. Mendarat cukup lama di Matraman, karena biasanya bangun pagi di stasiun dan tidur malam di bandara, ada jeda. Hening dan jeda. Sambil menyeruput kopi, di malam bulan terang, kosan sepi karena pada nonton konser bon jovi. Diri berkata, "Pulang Bandung, sepertinya dunia edukasi adalah langkah selanjutnya. Mulai dari kopi, karena Tanah Gayo kota dingin Takengon memiliki pengaruh kuat pada memori, sekuat memori Pulau Yamdena Saumlaki. Pemantiknya, gunung Sinabung & Slamet. (Pemantik sekunder lah jelas, pemantik primernya rahasia ah)."


Dua ribu lima belas, sebelum Taman Ismail Marzuki dirombak jadi seperti sekarang ini dan di sepanjang jalan depan masih berderet tempat makan. Bioskop murah dan toko kelontong buku klasik di belokan gang institut kesenian. Saat itu, windows phone masih sangat sanggup diandalkan. Mulai mencari masukan, pertimbangan, berbagi pengalaman, hingga menalarkan perasaan. Dari arus emosi hingga kerangka logika, kain dari Sintang & kukri dari Nepal (oleh-oleh kalau pisau ini) bilang, "Iya, pulang." Oke, pulang. Toh tidak perlu lama-lama, setahun dua tahun juga udah akan terbang pergi-pergi lagi, sambil bilang ini dalam pikiran.

Lima tahun kemudian masih di bandung dan sebagai bagian keluarga rumah belajar semi palar, tempat berkarya terlama. Kalau dibilang berkarya, bukan artinya melulu menghasilkan karya. Malahan menjadikan karya, menjadi karya. "Bukti bahwa diri berkembang adalah lingkungan tempat diri berada pun berkembang." Masih menjadi pegangan sekaligus pencarian. Menjadikan karya bukan menjadi produktif, justru menjadi bagian konstruktif. Menjadi karya bukan mengubah orang lain, malahan berubah dari diri sendiri. Semakin memberi malah semakin meminta, semakin mendapat malah semakin menyerahkan.

Edukasi bukan transfusi, justru adalah radiasi. Yang dimulai tidak dengan transmisi, malahan dengan transformasi. Dua nilai yang dijalani selama lima tahunan ini adalah sadar diri sadar tujuan sadar lingkungan dan nyaho can tangtu ngarti can tangtu bisa can tangtu tuman can tangtu ngajadi, menumpuk cukup banyak cerita yang sepertinya tidak salah kalau dibagikan. Cerita mengenai proses pendidikan jenjang pendidikan menengah di rumah belajar semi palar ini. Cerita proses berperan sebagai fasilitator program edukasi remaja usia lima belasan hingga tujuh belasan. Cerita penemuan-penemuan yang membuka mata meluaskan pandangan, lima tahun belakangan.