Tebing Keraton
Tebing Keraton merupakan tempat kedua yang saya datangi untuk hiking. Lokasi nya berada tak jauh dari Tahura Djuanda dan masih termasuk dalam pengelolaan Tahura. Tebing Keraton merupakan sebuah tebing yang yang berada di atas Tahura. Sehingga dari ketinggian tebing tersebut kita bisa melihat hijaunya punggungan punggungan bukit dan huta yang mengelilingi Tahura.
Selain untuk hiking , juga karena saya belum pernah mengunjungi kawasan ini. Saya datang agak siang saat itu sekitar pukul 11. 00 siang. Pengunjung tidak terlalu ramai dan sedikit mendung pada saat itu. Pemandangan nya sungguh luar biasa. Hijaunya perbukitan sungguh memanjakan mata yang melihat dari menara pengawas juga species monyet ekor panjang yang sesekali wara wiri dihadapan saya. Selesai saya mengambil foto disana saya berniat kembali kembali sebelum akhirnya menemukan satu arah jalan yang menurut papan penunjuk jalan adalah jalan menuju Tahura. Wah saya semangat melihat nya. Ini artinya saya siap melakukan hiking jauh lagi. Jalannya sudah berupa paving blok dengan pegangan beton dikiri dan kanan nya. Jalan terus menurun sekitar 1km. Suasana mulai merinding karena nampaknya selain jarang dikunjungi wisatawan, juga pepohonan dan semak belukar nya semakin padat. Terus menurun hingga jalan paving blok dan tembok tersebut habis pertanda pembangunan nya masih belum selesai dan menyisakan jalan setapak yang masih berupa tanah dan semak belukar yang semakin rapat. Saya mencoba menerobos masuk dan menyusuri jalan setapak tersebut. Entah mengapa meski itu siang hari, namun suasana sedikit menyeramkan. Mungkin itu dikarenakan wilayahnya memang sangat jarang atau bahkan tidak pernah dilewati warga sama sekali. Sejauh 500 meter saya menyusuri jalan setapak sehingga saya tidak lagi melihat jalan setapak dihadapan saya. Semak belukar semakin rapat dengan pepohonan besar yang membuat saya merinding. Mencoba terus maju namun langkah saya semakin berat sehingga saya memutuskan untuk kembali saja ke jalan yang tadi. Dan jalan untuk menemukan jalan setapak pun ternyata tidak mudah. Saya berdiri sebentar, menarik nafas perlahan sambil memejamkan mata dan berkata Bismillah. Terseok seok saya mencoba kembali menembus rapatnya belukar dan menemukan jalan setapak itu lagi. Dan Alhamdulillah...Saya berucap syukur ketika akhir nya saya menemukan jalan setapak itu lagi dan menuju jalan pulang. Karena kali itu saya baru dua kali melakukan solo hiking jadi masih takut takut apabila tersesat. Pelajaran nya adalah, pada saat kita berada di alam, alangkah baiknya hati dan pikiran kita tetap bersih dan tetap tenang. Hari itu saya belajar bagaimana untuk memasrahkan diri, hati dan pikiran saya kepada Allah S.W.T dan kepada alam. Oh iya, satu lagi bagi solo hiking alangkah baik nya kita tetap di jalan yang sudah menjadi jalur nya dan jangan keluar dari jalur yang telah ada. Saat itu langkah kaki saya berat, karena seperti nya sesuatu mencoba untuk menghentikan saya melangkah. Ya seharus nya saya pun mendengarkan kata hati saya kedepannya. Setelah kembali menuju pintu masuk Tebing Keraton, saya berbincang dengan seorang pria paruh baya. Berdasarknaan pembicaraan tersebut, saya tahulah ternyata ada menara pengawas lain di luar kawasan Tebing Keraton. Letaknya diperbatasan kebun warga dan hutan. Dengan semangat yang telah kembali, saya menyusuri perkampungan warga, memberi makan sapi warga yang kebetulan kandang nya saya lewati dan kemudian sampailah saya diperbatasan antara perkebunan warga dan tepi hutan. Benar saya kata Bapak paruh baya tadi, ada menara pengawas lain disana yang sudah tidak terawat. Mendekati menara pengawas tersebut, tiba tiba muncul seorang petani yang nampaknya baru selesai mengambil rumput untuk pakan ternaknya. Beliau bertanya “ mau kemana neng ?” “ Naik ke atas, pak. “ Jawabku. Bapak tersebut lantas melarang, jangan neng. Besi nya sudah karatan dan beberapa pijakan nya sudah bolong bolong. Ohhh...Baiklah, saya mengurungkan niat untuk tidak keukeuh menaiki menara pengawas tersebut. Saya memiliki prinsip untuk selalu mendengarkan apa yang disampaikan warga sekitar. Ya seharus nya begitu memang, kita harus mendengarkan warga sekitar karena mereka lah yang lebih tahu tempat tersebut daripada kita. Mereka yanng tinggal disekitar lokasi tentunya sudah hafal betul baik buruknya tempat tersebut daripada kita yang hanya pengunjung yang sekali lewat. Akhir nya saya pun kembali pulang. Banyak pelajaran yang saya dapat pada hiking kedua ini. Bagaimana untuk selalu mendengar kata hati dan bagaimana kata hati itu menuntun saya untuk kembali melakukan solo hiking berikut nya.