Tentang makan dan makanan. Kita selalu menganggap bahwa makanan yang dibutuhkan diri kita hanyalah makanan yang datang melewati mulut. Atau hanya pada apa yang kita “makan”.
Lebih luas dari itu, ada makanan lain yang sangat sering kita lupakan. Makanan dari mata, apa yang kita lihat. Makanan dari telinga, apa yang kita dengar. Makanan dari hidung, apa dan bagaimana kita menghirup udara.
Kita sering tak sadar tentang itu. Dan tanpa kontrol kita pula, sering kali kita kekenyangan atau bahkan kelaparan. Kekenyangan misalnya suara, kita terlalu banyak mendengar suara-suara yang tak perlu. Atau mata, kita sering melihat hal-hal yang tak perlu juga. Yang mana itu semua belum tentu “makanan sehat” bagi mata dan telinga kita.
Kemudian hidung. Kembali pada napas. Hal terpenting yang sangat sering kita abaikan. Betapa kita sering menyepelekan napas. Tetapi faktanya, banyak dari kita yang kurang tepat dalam bernapas. Masak sih napas aja salah? Ya! Itu faktanya. Kita sering napas dari mulut, atau napas masuk dari hidung ke dada, bukan ke perut. Dan kekeliruan lainnya. Belum lagi udara polusi yang kita hirup sehari-hari.
Padahal, berdasar hasil studi dan data yang saya dapat dalam video Puasa Napas; rata-rata manusia dapat bertahan selama 3 minggu tanpa makanan, 3 hari tanpa air, dan hanya 3 menit tanpa udara. Dalam video juga ditegaskan, ketika hendak meningkatkan kesehatan kita justru berfokus pada apa yang dapat kita tahan lebih lama. Sementara napas, rasanya masih menjadi prioritas nomor sekian.
Lihat, betapa kita terlena oleh “makanan” bagi mulut yang iklannya memang begitu masif. Bahkan untuk mengiklankan makanan bagi mulut itu, semua indra kita dikelabuhi. Dengan tampilan yang menarik, aroma yang sedap, rasa yang enak, dan tekstur yang lembut, dsb. Bagaimana dengan makanan bagi mata, telinga, dan hidung? Tak ada, tak ada yang menyajikannya dengan begitu menarik. Sehingga lambat laun kita lupa makanan itu ada dan kita perlukan.
Mari kita cari, “makanan mata” seperti apa yang baik untuk dikonsumsi. “Makanan telinga” seperti apa yang tepat untuk kita dengar. “Makanan hidung” yang bagaimana yang layak kita hirup dan bagaimana cara mengonsumsinya dengan benar.
Jika ada pilihan untuk jenisnya, maka perlu dicoba juga pilihan untuk mengendalikan konsumsinya. Seperti misalnya dengan berpuasa. Sebagaimana kita tahu, kata puasa masih teramat lekat dengan makanan mulut. Padahal indra yang lain juga bisa dan perlu berpuasa. Puasa juga tidak memulu tentang berhenti mengonsumsi dalam jangka waktu tertentu, tetapi juga penyesuaian kebutuhan konsumsi. Kita bisa memilih untuk puasa melihat, puasa mendengar, puasa bernapas, dan bentuk lainnya. Metodenya tentu bermacam-macam. Setiap kita pasti punya kebutuhan dan cara yang juga berbeda-beda. Seperti “makanan mulut” yang baik bagi tubuh kita, bisa jadi berbeda pula kebutuhan pada masing-masing kita.
Seperti “makanan mulut”, makanan yang lain (mata, telinga, hidung) juga akan membawa dampak bagi tubuh kita. Ada makanan yang sehat dan tidak sehat. Masing-masing membawa dampaknya bagi tubuh kita. Semoga kita lebih bijak dalam mengatur konsumsi “makanan” kita. Selamat mencari jenis dan bentuk makanan terbaik. Selamat kembali menyadari dan mengontrol konsumsi bagi diri. Temukan “makanan” terbaik versi dirimu!