Tujuh tahun yang lalu, kegilaan saya dimulai dengan nekat melamar pekerjaan di tempat ini. Saya tidak punya pengalaman apapun di dunia pendidikan. Rasanya seperti memasuki sebuah hutan dengan mata terikat kain, saya hanya merasa perlu masuk ke hutan ini dengan berani. Pernah dengar istilah welcome to the jungle? bagi saya memasuki lingkungan atau sebuah fase kehidupan itu ibarat memasuki hutan, hutan yang saya masuki mungkin berbeda dengan hutan yang orang lain masuki. Tantangan dan isi hutannya berbeda-beda tapi esensinya tetap sama, yaitu bertahan hidup.
KPB bagi saya seperti pintu gerbang, tempat pertama kali saya mulai meraba-raba bentuk hutan yang saya masuki di fase magang. Pertemuan dengan duo fasilitator hebat KPB di masa itu, membuat saya mulai melihat gambaran besar mengenai esensi holistik di Semi Palar. Kebutaan saya tentang dunia pendidikan, membuat saya benar-benar memanfaatkan setiap waktu untuk belajar dan menyelami dunia ini. Seiring perjalanannya saya belajar dari para senior, Kakak-kakak, anak-anak, juga orangtua tanpa terkecuali, semua orang menginspirasi proses saya di tempat ini.
Rumah belajar ini punya karmanya sendiri, di sini semua orang belajar untuk memahami nilai-nilai kehidupan yang sebenarnya. Smipa mengajarkan saya untuk selalu kembali ke dalam, kami menyebutnya literasi diri. Literasi diri itu seperti belajar membuka penutup mata yang selama ini membuat kita sulit melihat dunia luar dengan lebih jelas, begitupun kami menanamkan nilai-nilai itu pada anak-anak. Sehebat apapun kemampuan manusia, saat ia tidak berani melihat ke dalam diri, ia akan terus berjalan dengan mata tertutup, hanya menerka-nerka apa yang sebenarnya ada di luar dirinya, bisa jadi benar atau salah tapi semua sifatnya hanya tebakan.
Tidak pernah saya merasa semelekat ini berada di sebuah lingkungan, ini bukan hutan biasa, ternyata ini hutan dengan sebuah rumah mungil yang penuh cinta kasih. Sejak kemarin saya berpamitan dengan Kakak-kakak, sampai saat saya menulis ini, saya masih berderai air mata. Ternyata hutan yang saya masuki tujuh tahun lalu, mengajarkan saya tentang arti ketulusan hati. Di sini saya belajar, sehebat apapun ide-ide kami dalam merancang sebuah program pembelajaran, tidak akan terwujud utuh jika tidak disertai ketulusan hati untuk membersamai proses anak-anak. Saya pernah berbincang panjang dengan salah satu Kakak dan menyimpulkan "koncina mah kumaha niat". Tidak ada rumus baku tentang menjadi fasilitator di Smipa, mungkin tidak ada yang benar-benar ideal juga, tapi niat itu yang kemudian membawa kami memaknai setiap proses dan pembelajaran di sini.
Di tempat ini, saya merasa dikelilingi orang-orang baik yang memberi energi baik, saya merasa dikasihi dengan tulus, mungkin itu sebabnya saya merasa semelekat ini dengan Smipa. Saya sangat percaya bahwa rezeki itu tidak melulu soal materi, tapi berada di dekat orang-orang baik yang saling mendukung dengan tulus, saling menginspirasi, saling memotivasi adalah hal yang tidak ternilai harganya.
Saya selalu ingat perkataan Kak Andy, dan saya meyakini hal yang sama, bahwa tidak ada yang kebetulan, everything happens for a reason. Kalimat ini sederhana, tapi nyatanya seperti jangkar yang mengikat keimanan kita kepada Tuhan yang Maha Merencanakan. Terima kasih Semi Palar yang sudah menjadi rumah. Saya pamit mengembara dulu ke hutan yang lain. Semoga keberkahan selalu menyertai anak-anak, Kakak-kakak, orangtua, dan semua orang yang ada di rumah ini