FestLit akan datang. Tak sabar rasanya menunggu event itu selama tiga tahun lebih. Festbuk terakhir diadakan pada bulan November 2019. Waktu tiga warsa yang berlalu dalam sekejap mata. Buku-buku di rumah semakin banyak memenuhi rak-rak yang ada, dan sebagian disimpan dalam kontainer. Meskipun sudah banyak yang kami donasikan, buku-buku itu seakan bertambah terus, dan bukannya berkurang. Hehehe…
Keputusan bulat pun diambil. Tahun ini aku harus melepaskan buku-buku penuh memorabilia yang menemani usia dini anak-anak. Dua set buku kuambil dari rak, kubuka tiap halamannya yang menyisakan imaji akan pertanyaan dari mulut kecil mereka kala itu. Buku-buku flap book dengan tema kota, peternakan, musim, kebiasaan baik, dan dongeng yang mengawal tidur mereka setiap malam. Teringat, lebih dari sepuluh tahun lalu saat si sulung membawa beberapa buku sekaligus ke kamar dan berkata, “Ini untuk besok dan yang ini untuk besoknya lagi,” saat kukatakan padanya, “Satu buku untuk satu malam, ya.” Beberapa flap sudah kucel ujungnya karena keseringan dibuka-tutup, bahkan pernah dilem karena mulai robek. Mataku menyisir lagi deretan buku di rak, kuambil beberapa buku dan kubuka perlahan tiap halamannya. Kuamati kovernya beberapa saat, membiarkan pikiranku berkelana ke masa lampau, lalu kukembalikan lagi ke dalam rak. Ah, aku belum siap melepasnya sekarang. Rasanya masih sulit berpisah dengan kenangan itu, mungkin perlu waktu. Tak apa.
Dan, seperti yang selalu kuyakini bahwa segala sesuatu terjadi di dunia ini karena ‘berjodoh’, itulah yang terjadi di hari pertama FestLit. Sepasang orangtua dari anak TK A datang dengan niat membeli banyak buku. Kok, tahu? Ya karena mereka membawa dua ransel kosong untuk mengangkut buku-buku yang ingin mereka beli dari bursa buku. Dan kebetulan pula aku yang melayani mereka. Mereka mengambil dua set buku flap book itu, meminta ijin untuk membuka ikatannya. Kami mengobrol tentang buku itu, tentang bagaimana buku itu pernah berjasa besar mengenalkan banyak hal pada si sulung dan si bungsu, sampai akhirnya mereka memutuskan mengadopsinya. Terima kasih banyak, ya! Aku percaya si kecil akan senang membuka tiap flap-nya, bertanya tak henti-henti seperti si sulung dan si bungsu dulu.
Selain itu, ada juga set buku Brain Quest yang sering kami pakai untuk bertanya-jawab dengan anak-anak sebelum mereka tidur. Buku itu terjual pada hari kedua, pada seorang ibu dari anak TK juga yang menggendong anak bungsunya dengan carrier. Terima kasih juga, ya, sudah mau meneruskan manfaat dari buku-buku penuh kenangan itu.