kembalilah kita, kembali,
mengakrabi siang yang terik,
pada satu hari yang begini baik.
_
pada mulanya
cuma langkah-langkah kecil
bergantian-berkejaran erat,
langkah yang lekas membawa kita
semakin dekat dengan rumah,
satu tempat yang penuh
dengan kenangan-kenangan ramah.
_
di luar sana, perjalanan
memang selalu melelahkan,
perjalananan yang membuat kita memahami
arti setiap pertemuan demi pertempuran,
hingga menjadi makna yang kelak
kita lebur, kita baur.
_
kembali kita pada suatu rumah,
menjadi anak-anak
yang berbaring di atas serakan dedaunan kering,
yang bersenda derau dengan lembut nyanyian angin,
yang bergelantungan di dahan-dahan yang tenang,
yang berlari riang dengan bayang-bayang.
_
kita coba mendengar lagi memori
yang tersimpan rapi pada setiap sudut rumah ini.
di mana kita pernah menangis dan tertawa?
di mana kita pernah berkali-kali patah dan jatuh hati?
_
pernah kita tabur benih harapan
pada satu sudut halaman.
adakah benih itu telah tumbuh tegas?
adakah benih itu menjadi pohon
dengan buah ranum yang siap lepas?
_
di rumah ini,
kita tinggallah anak-anak
berpegangan-bergandengan
memanjatkan doa-doa sederhana,
selayaknya hidup, juga bahagia.
_
kita cuma anak-anak yang bermain
membentang kain bergambar bintang
dengan pendar yang sebentar-sebentar,
pendar yang terus kita jaga,
pendar yang selalu menjaga kita,
_
karena kelak pada suatu ketika,
tiba waktunya perjalanan melepas lagi
erat genggam jemari kita, satu per satu,
tetapi pendar mungil itu menetap,
bersinar dari rongga dada
menerangi setiap gelap,
menangkap segala harap.
_
akhirnya tiba juga, satu terik yang baik ini,
bersama, kita coba meruwat dan merawat lagi
sebagaimana seutuhnya rumah,
tempat yang selalu membukakan pintunya
bagi kita untuk berkali-kali kembali.
_
Bandung, Semi Palar, 2024
*dibacakan pada acara Selametan Semi Palar 31 Agustus 2024
Mbrebes mili bacanya. Keren banget, Kak Adhimas!
Nuhun, Kak Oms. Semoga berkenan 🙏
Mendengar ini, air di mataku seolah "bersenda derau dengan lembut nyanyian angin,"
Keren Kak Dhimas!
Nuhun Kak Mats, pengen baca juga euy yg punya Kak Mamat.
Saat menuliskan ini, pikiran saya melayang kembali saat kak Dhimas membawakan narasi ini kepada kita semua, melangkah perlahan, di antara bintang di atas kain biru, di hadapan warga Smipa yang mengelilinginya. Di sanalah kata-kata ini bergema dan mudah-mudahan menemukan resonansinya. Nuhun pisan kak Adhimas
Nuhun pisan, Kak Andy. Saya menerima dan menyimpan apresiasi Kak Andy dengan baik. Terima kasih juga sudah memberikan kesempatan dan kepercayaan besar ini.