AES#164 Komunikasi
Natasha Setyamukti
Monday May 2 2022, 10:30 AM

Kemarin, aku membaca sebuah buku, buku yang banyak direkomendasikan oleh orang-orang juga, yaitu buku Berani Tidak Disukai, sebuah buku filosofi dengan pengemasan yang unik. Buku ini ditulis dengan bentuk dialog, antara seorang pemuda dengan seorang filsuf. Mereka mendiskusikan banyak hal, mulai dari hubungan interpersonal, komunikasi dan masih banyak lagi. Sebelum membaca buku ini, aku juga sempat membaca buku Bicara itu Ada Seninya.  Kedua buku ini, memiliki beberapa poin yang menurutku cukup mirip, tentang bagaimana kita berkomunikasi dan berelasi dengan orang lain. 

Satu rumus yang aku ingat adalah komunikasi akan terjadi, bila kita memberikan reaksi, pertanyaan dan pujian. Katanya bila kita tidak menerapkan 3 hal itu, sebuah komunikasi yang sehat tidak akan terjadi. Selain itu, sebuah komunikasi itu seharusnya saling membangun, kita dan manusia lain harusnya memiliki sudut pandang yang positif. Bila salah satu pihak yang berkomunikasi sudah merasa "aku yang benar", ia sudah melangkah dalam jurang merebut kekuasaan. Dimana hal ini membuktikan bahwa lawan bicara kita salah. Disini, forum diskusi sudah berubah fokus, dari 'kebenaran sebuah pernyataan' menjadi 'kondisi hubungan interpersonal mereka'. Hal ini akhirnya menjadi sebuah kontes, dimana pihak lain berusaha membuktikan bahwa dirinya benar dan menjatuhkan pihak lawan. 

Komunikasi yang dijalin, sebagai mahkluk sosial, tentunya harus memberi makna pada kedua belah pihak. Bila sebuah komunikasi dan hubungan terjadi semata-mata didasari oleh pekerjaan, hubungan ini akan kembali menjadi hubungan dengan orang luar. Hubungan dangkal dan hanya dijalankan karena sebuah kewajiban.