AES127 resolusi
nathania
Monday March 14 2022, 5:50 AM

Saat tahun baru, aku  membuat resolusi tahun baru. Resolusi tahun baru ini bertujuan untuk membangun  kebiasaan baik dan menghilangkan kebiasaan buruk. Contohnya, memulai hidup sehat, menjadi  lebih produktif, atau mengurangi main media sosial.

Masalahnya, membentuk kebiasaan ini cukup tricky dan membutuhkan konsistensi. Menurut penelitian yang dilakukan di Edith Cowan University, resolusi tahun baru milik kebanyakan orang cuma bertahan sampai beberapa minggu aja. Penelitian lainnya juga mengatakan kalau cuma 8% orang yang berhasil menjalankan resolusi tahun barunya. Sayang sekali ya...

Ada beberapa alasan kenapa proses membentuk kebiasaan baru kamu bisa gagal. Lalu apa aja sih alasannya?

1.Tujuan yang gak spesifik dan realistis

Alasan kenapa tujuan kamu sering gagal adalah karena tujuan tersebut gak spesifik. Contohnya, kamu memiliki tujuan untuk rutin berolahraga di tahun baru. Nah, sayangnya tujuan ini sebenarnya masih terlalu umum karena belum memiliki detail yang jelas.  Tolak ukur “rajin” di sini berapa kali dalam seminggu? Berapa menit kamu akan olah raga?

Di sisi lain, tujuan kamu mungkin gagal karena gak realistis. Misalnya kamu bikin goals untuk workout 30 menit,  lima hari dalam seminggu. Kalau baru pemula dalam  workout, tentu wajar merasakan kewalahan dan gampang capek. Oleh karena itu, tujuan tersebut kurang realistis karena gak mempertimbangkan kemampuanmu saat ini.

2. Prokrastinasi yang mengarah jadi “bolos”

Alasan berikutnya kenapa tujuan kamu selalu gagal adalah sering melakukan prokrastinasi atau menunda-nunda melakukan perilaku tersebut. Hal ini biasa terjadi ketika kamu lagi sibuk atau memang gak bersemangat.

3. Fokus pada “menghilangkan” kebiasan buruk

Resolusi tahun baru yang sering dibuat bertujuan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Misalnya berhenti merokok, mengurangi makan junk food, atau menghilangkan adiksi sosial media.

Sebetulnya tujuan ini tidaklah salah. Akan tetapi, sebuah riset menunjukkan bahwa tujuan menghilangkan kebiasaan buruk cenderung kurang efektif dibandingkan tujuan membangun kebiasaan baik. Hal ini karena tujuan untuk menghilangkan kebiasaan buruk dinilai kurang jelas dan tidak menyelesaikan akar masalah.

You May Also Like