Sudah memasuki semester ke 4 di KPB, atau sudah hampir dua tahun aku berada di KPB. Dengan kelompokku yang terhitung sudah lama bersama, akhirnya aku bisa lebih mengenal teman-teman. Setelah banyaknya senang, sedih kesal, aku akhirnya bisa lebih menerima, dan beradaptasi dengan kelompok ku.
Akhirnya aku mengetahui kenapa aku waktu awal di KPB dan bekerja bersama teman-teman selalu mengeluh, kesulitan, dan malah jadi kesal sendiri. Padahal aku sudah bersama teman-teman selama kurang lebih 5 tahun. Ternyata alasan dari itu semua adalah, aku yang masih sulit beradaptasi dengan perubahan kepribadian teman-teman dan juga dengan diri ku sendiri. Aku juga masih sulit awalnya untuk menerima perbedaan kepribadian tiap individu. Kemudian aku belum tahu cara yang tepat untuk bekerja sama bersama teman-teman ini.
Mungkin yang membaca ini kebingungan, kenapa sih seperti yang sulit sekali untuk bekerjasama, padahal kelompok lain bisa klop dengan kelompoknya dan saling bekerja sama, walaupun ada masalahnya tersendiri. Sebenarnya hal ini hanya bisa dijawab oleh masing-masing anggota. Tapi kalau dari aku, karena aku yang sulit menerima kondisi lingkungan ku. Aku yang terlalu berharap akan bisa berjalan lancar dengan kelompok ku walau aku perempuan sendiri, ternyata sulit. Dari cara bersosialisasi perempuan dan laki-laki saja berbeda, apa lagi aku dan teman-teman ku memamng benar-benar mempunyai kepribadian yang berbeda dan tidak ada yang sama. Jadi sulit untuk bersatu.
Akhirnya aku sudah bisa menerima kelompokku dan anggota kelompokku. Tapi tetap saja ada lika-likunya. Jadi perempuan sendiri di kelompok ada enak dan tidaknya. Enaknya, aku bisa mengurangi kebiasaan gosip ku, jadi mengobrol yang lebih penting, karena teman kelompokku berbeda dengan teman luar yang suka bergosip. Namun tidak enaknya, terkadang kalau saat diskusi karena pemikirannya berbeda, jadi suka tidak sama pendapatnya, miskom, dan kadang kala kalau saat debat biasanya aku ada teman lain yang memberi bantuan untuk mendukung ketika aku bicara atau debat, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Aku harus bisa mendukung diriku sendiri saat diskusi karena teman yang klop dengan ku di sekolah tidak ada lagi.
Memang sulit tidak ada teman yang mempunyai kesamaan yang sama atau tidak mempunyai teman yang klop dengan diri. Namun dari situ aku bisa belajar lebih mandiri karena para teman-teman laki-laki ku cuek, bisa dapat pandangan berbeda lain, jadi mengasah komunikasi ku karena sulit untuk saling ngobrol dengan yang pemikirannya berbeda, dan bisa berteman dengan laki-laki. Kemudian aku yang awalnya perempuan yang sangat ceriwis sampai dijuluki gordes (gorowok desa), atau yang artinya saat bicara suaranya lantang, sangat suka berbicara, banyak ngomong, sekarang aku jadi lebih pendiam. Mungkin karena aku jadi bisa membatasi mengobrolku, karena aku harus bisa membedakan mengobrol dengan tiap individu, kemudian konteks dan tempat berbicaranya sekarang aku lebih dipikirkan. Mengapa aku jadi lebih memikirkan hal-hal itu karena mengobrol dengan perempuan dan laki-laki cukup berbeda, malah yang ku alami itu sangat berbeda. Kalau aku mengobrol dengan teman-teman kelompok aku lebih tenang dan berbicara yang harus aku bicarakan saja, karena timbal balik yang didapat berbeda dengan perempuan yang bisa ikut terbawa emosi lawan bicara. Kalau dengan teman perempuan lainnya, misal dari angkatan lain atau luar sekolah aku lebih bebas karena timbal balik yang didapat sesuai dengan apa yang ku inginkan.
Jadi dari kelompok ku yang aneh ini, yang aku perempuan sendiri, aku jadi bisa dapat makna positifnya. Sebenarnya di awal KPB aku selalu melihat hal yang negatif, tapi akhirnya aku bisa melihat hal positif, dan hal itu membuat aku jadi lebih menerima dan bisa senang dengan kelompokku.