Para pencari ikan dan peternak mutiara di M'sol tidak pernah tau dimana burung Cikalang bersarang. Melihat mereka mendarat pun tidak, kata mereka. Mereka bersarang di Arasy, singgasana Tuhan, kata beberapa tete (kakek). Melihat mereka bergerombol, membentuk spiral, terbang rendah diatas lautan, adalah petunjuk bagi para nelayan bahwa sekumpulan ikan cakalang sedang sibuk di bawahnya. Siluet burung Cikalang, saat terbang, yang rentang dan bersudut tajam, serta bulunya yang dominan berwarna hitam, mengesankan keindahan yang elegan. Senada dengan keindahan elegan dari bentuk-bentuk pulau Karst yang tersebar di Selatan Misool. Tak senada tapi melengkapi keindahan yang lebih ramai, gempita warna di bawah muka air, terumbu karang yang riuh dengan kehidupan ikan-ikan karang, penyu, dan kadang mamalia laut.
Fregata Ariel, nama sains mereka. Orang di daerah Buru menyebut mereka burung Talang. Burung jantan memiliki kantung leher berwarna merah yang kadang mereka kembungkan untuk memikat betina. Ada beberapa hari dalam semusim saat mereka terbang bergerombol diatas Misool Selatan dalam jumlah ribuan. Bruce Klegg, pengelola Taman Nasional di Zimbabwe, yang berkunjung ke Misool dengan kedua anak remajanya, mengatakan kita lebih sering terlalu sedikit dalam memperkirakan jumlah hewan saat mengamati di alam. Jadi jangan-jangan burung Cakalang yang saya amati jumlahnya sampai ratusan ribu. Di hari-hari seperti itu saya dan para penduduk pulau sering turun dan berenang ke laut, jika tak banhyak gelombang, lalu mengambang telentang dan menyaksikan keindahan gerakan terbang rampak mereka yang massal. Di saat-saat itu, festival warna di bawah air harus cemburu sejenak.
Waah tulisannya asik sekali dibacanya. Selamat sudah pecah telor. Semoga berlanjut. 😊🙏