Beberapa bulan lalu, dalam sebuah percakapan whatsapp,“buatkan konten yang bikin viral, gak apa-apa gak nyambung sama fotonya juga, hahahaha...”. Dalam hatiku, “Kok gitu?”. Mungkin sekarang jamannya memang begitu, semua bisa dibikin. Lalu saya riset beberapa konten serupa, menelaah bagaimana mereka membuatnya, dan saya berasumsi bahwa itu sebuah konten yang menyebalkan karena saya merasa tertipu dan membuang waktu.( Bingung kan tuh saya). Lalu saya bilang kepada atasan bahwa konten seperti itu nanti bisa jadi masalah, lalu beliau berkata tidak apa-apa karena biar menarik dan menjadi viral.
Di waktu yang lain ada pesan whatsapp, “bikin pengumuman tiktok challenge, yang simple aja tapi meriah, hahahahaha...”, lalu kubuatkan 7 baris caption untuk instagram yang berisi 1 baris judul pembuka (berupa kata-kata yang mengait perhatian pembaca, berupa gimmick atau hooker) , 1 baris topic utama(event utama), 3 baris berupa info syarat ketentuan, 2 baris terakhir adalah call to action (ajakan mengikuti event dan tanggal periode acara). Lalu direvisi, katanya “ini kurang WOW, aku tambahin aja ya”, tegasnya.
Kemudian pesan hasil revisi pun datang, berisi caption untuk dishare di grup agen reseller yang akan diposting pada medsos akun jualannya masing-masing. Hasil revisinya memang WOW bagi saya, berisi kurang lebih 24 baris berupa informasi yang tadi saya buat, dengan tambahan kata-kata bernuansa WOW. Dan atasan saya tersebut juga langsung menginstruksikan saya untuk share langsung ke grup whatsapp agen reseller. Langsung saya share, dan langsung dapet banyak respon, mereka bilang “apa ini gak ngerti”, “maksudnya gimana toh?”, dan beberapa bahasa daerah yang saya kurang paham artinya, yang intinya juga mengatakan mereka gak ngerti. Grup agen ini berisi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah, dengan range usia 35-50 tahun, yang berdomisili di kabupaten(95%) yang tersebar di hampir seluruh Indonesia . Selanjutnya, yaaaa ….., agak repot menceritakannya, namun intinya saya merasa gagal melakukan pekerjaan saya untuk menyampaikan pesan dengan sesuai.
4 tahun lalu, dalam sebuah seminar berdurasi 3 jam yang saya liput ketika saya masih aktif di bidang broadcasting, saya menyimak setiap slide yang tampil di big screen, untuk dapat memahami dan selanjutnya bagaimana saya mengemasnya kembali dalam sebuah tayangan berdurasi 6-8 menit. Info penting yang akan saya sampaikan tentunya memiliki poin utama, what, when, who, why, how. Info yang akan saya sampaikan pada tayangan adalah tentang acara secara umum, acara apa, ngapain aja, dimana dilaksanakannya, sesi wawancara tentang penjelasan latarbelakang dan tujuan acara oleh narasumber terpercaya, dan bagaimana acara tersebut berlangsung, apakah seru, khidmat, rusuh atau hambar, dapat juga dihadirkan testimoni dari salah satu pesertanya. Saya tidak memaparkan tentang detail atau pemaknaan yang saya simak dari presentasi sang narasumber secara mendetail, meskipun saya memaknai apa yang saya simak.
Ilmu dan wawasan baru dari seminar saya dapat, dan pekerjaan saya pun saya lakukan. Dengan ikut menyimak, minimal saya mendapat pengalaman dan kesan yang kemudian akan saya tuangkan ke dalam narasi tayangan. Tidak sekedar bilang acara ini WOW.
Literasi, dalam pengalaman hidup saya adalah bagaimana ia menjadi sebuah penghubung, penerang, pemberi rasa, dan kunci untuk jendela-jendela yang masih tertutup. Tentunya dengan kesesuaian yang seharusnya.
Saat ini saya sering ribut sendiri di fikiran saya, “kok gitu?”.
Dengan kejadian yang saya alami di cerita pertama, seringkali saya merasa diri saya telah usang, karena kemampuan saya tidak dapat sesuai dengan ekspektasi atasan di kantor. Namun, rasanya saya tidak salah seratus persen. Rasanya tidak salah jika di jaman sekarang ini, dimana industri kreatif tengah benar-benar menjadi sebuah industri, saya tetap ingin berkarya dengan layak. Jika produk ini hanya berwarna merah, ya merah saja, saya tidak ingin menuliskan merah menyala emas. Majas memang sangat sah digunakan dalam penyampaian iklan atau karya lain di industri kreatif, namun bukan untuk membohongi.
Berkuliah di jurusan desain komunikasi visual, bekerja dan berkecimpung di media dan industri kreatif sejak semester akhir kuliah, rasanya tidak pernah cukup memberi saya pengetahuan. Di usia yang saya kira akan merasa cukup untuk memikirkan tentang perkembangan jaman, dan akan ikut saja arusnya, rupanya saya malah ingin kembali belajar lebih banyak lagi. Masih banyak perdebatan dalam benak saya yang membuat sakit kepala, dan tidur bukanlah obatnya. Mendengar, melihat, meresapi dan memaknai, semoga ruang ini berkenan berbagi banyak hal dengan saya selanjutnya.
Halo kak Pungky, tulisan ini telah terpilih untuk dibukukan, mohon izin tulisan ini diterbitkan di buku 5 Atomic Essay Smipa Pecah Telor [AES001], semoga berkenan ya. Terima kasih. 🙏