Di satu pagi tahun 2007, langkahku bergegas untuk tiba tepat waktu seperti yang dijanjikan. Wali dosenku memintaku menemui seseorang yang namanya tertulis pada sebuah kartu nama, “Besok kamu dateng jam 8 udah di sana, temuin Andi, nih kartu namanya…ada alamatnya di situ.” Lalu ia kembali ke percakapan di telpon genggamnya. Hanya itu petunjuk yang terus aku ingat-ingat hingga aku tiba pada sebuah bangunan seperti rumah dengan genteng tanah liat yang dapat dilihat dari dalam ruangan itu ketika aku menengadah untuk melihat dengan seksama sosok tinggi yang dosenku panggil ‘Andi’. Sesaat,.tapi lama aku berfikir, “Aku harus panggil apa supaya sopan? Bapak? Tapi orang ini masih muda.” Akhirnya kuputuskan meanggilnya ‘Pak Andi’ karena beliau teman dosen yang aku panggil ‘Bu Anne’.
Singkatnya, aku mengikuti proses magang bersama seorang Kakak magang lainnya bernama Claudia. Magang pertama di Smipa, memberiku banyak beban pikiran(wkwkwk). Claudia teman magangku, dia sangat mudah berbaur dengan teman-teman kecil dan aku takjub melihatnya begitu menikmati momen bersama teman-teman kecil. Sementara aku, tenggelam dalam ketidak percayaan diri. Aku takut salah, aku merasa tidak bisa seperti Claudia yang mengagumkan, atau sekeren Kak Eet(almarhum) dalam mengondisikan kelas yang begitu ramai hanya dengan cara memberi isyarat. Waktu pun berlalu, dengan segala rasa tidak percaya diriku, tapi aku juga merasa nyaman berada di Smipa. Saat itu aku sering berkhayal, aku ingin jadi siswi di sekolah ini, aku ingin turun naik semua tangga setiap kali datang dan pulang, aku ingin berlarian di rumput saat jam istirahat, aku ingin mengobrol bersama teman sekelas di teater, dan aku ingin mengikuti acara penting sekolah di pendopo. Tapi, aku kembali pada kenyataan, aku bukan anak-anak lagi dan aku kembali merasakan rasa tidak percaya diri sebagai kakak magang di Smipa.
Situasi membawaku untuk tidak melanjutkan proses magang, ada skripsi yang menanti dan sebelum itu aku harus magang kuliah di sebuah media televisi lokal kota Bandung. Aku yang tidak pernah merasa jadi Kakak magang yang baik, tercengang mendengar ucapan Pak Andi saat itu, “Nanti kalau sudah selesai skripsinya, balik lagi ke Smipa, kan?”. Langsung muncul banyak pertanyaan dalam benakku, apa aku cukup baik untuk jadi Kakak di sekolah ini? Kemudian Kak Caludine memberiku sebuah scrapbook berisi kata-kata baik tentangku dan ada fotoku di sana. Lagi-lagi aku tercengang, “Seriusan??? Aku punya arti untuk kakak-kakak ini?” Senang, haru, tak percaya dan bercampur tertantang untuk menjadi sosok yang lebih baik.
Skripsi sudah selesai, sidang dan hari wisuda pun tiba. Tapi nyatanya aku tidak segera kembali ke Smipa. Usai lulus kuliah, tahun pertama aku lalui di tim produksi program acara TV lokal, tahun kedua pun sama, tahun ke tiga aku diharuskan mandiri dengan membangun biro tv tersebut. Di tahun ke empat, aku bingung. Jenjang karirku tidak mungkin naik ke tingkat selanjutnya, karena hirarki perusahaan dan lain sebagainya jadi faktor utama. Usiaku baru menginjak 23 tahun saat itu, kuputuskan berjeda dari bekerja yang hampir tak pernah pulang ke rumah.
Aku merenung, aku harus pulang. Aku berdoa, memohon Tuhan membimbing aku pulang. Jalannya rumit, tapi membawaku kembali ke Rumah….Belajar Semi Palar. Dan itu jadi kali ke dua aku di Smipa, bertemu Kak Iden dan Kak Taufan. Rupanya di tahun ke 2 aku harus pergi lagi dari Smipa karena situasi rumah/keluarga. Dengan bekal dua tahun dari Smipa, aku kembali bergelut di media selama 4 tahun lagi.
Hari ini (220622), di tengah pelukan dan isak haru Kakak-kakak di penutupan TP17, terbayang olehku jalan rumit lainnya yang membawaku kembali ke Rumah Belajar Semi Palar, sebagai kali ke tiga di tengah situasi pandemi. Bukan mudah, tapi lagi-lagi ada dorongan padaku. Situasi pandemi yang membongkar pondasi-pondasi kokoh rutin dan kebiasaan, perkembangan zaman dan pemunculan kaum muda yang eksentrik, juga kakak-kakak yang selalu memberi insight baru yang sekarang jumlahnya lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya, temuanku banyak!
. Aku bersyukur, karena selalu punya banyak hal di sini. Rumah Belajar Semi Palar, sekolah rasa rumah orang tua.
Rumah adalah tempat dimana apa adanya diri ini bisa hadir dengan rasa aman, tempat dimana semua proses diri bermula, tempat dimana bisa kutemukan kepingan-kepingan berisi energi yang seolah kekal, dan tempat terbaik untuk pulang.