Dengan adanya pandemi yang berlangsung hampir satu tahun lebih ini, para pelajar diharuskan belajar dari rumah atau bersekolah secara online. Pertanyaan yang muncul sehubungan dengan pembelajaran online ini adalah, seberapa efektifkah sekolah online? Cara apa sajakah yang perlu ditempuh agar pembelajaran online ini menjadi efektif?
Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut, sangat tepat apabila kita meminta pendapat dari Kakak kelas selaku pembimbing pembelajaran online ini. Aku melakukan wawancara pada 2 Kakak kelas Semi Palar di jenjang yang berbeda mengenai hal ini, Kak Sizi (Kakak kelas di jenjang KB Semi Palar Bandung) dan Kak Robert (Koordinator jenjang SMP Semi Palar Bandung).
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kak Sizi (Kakak kelas di jenjang KB Semi Palar Bandung) dan Kak Robert (koordinator jenjang SMP Semi Palar Bandung):
– Kak Sizi
Hal Positif:
“ Setelah hampir 2 tahun PJJ, ternyata banyak juga variasi kegiatan yang bisa dilakukan secara online. Kalau Kakak jadi banyak belajar ini itu juga. Jadi nambah ilmu lah. Selain itu, kalau untuk anak dan orangtua, orangtua nampaknya jadi semakin kenal anak, ya. Kalau dulu kan kebanyakan hanya dengar dari Kakak. Sekarang orangtua bisa lihat sendiri perkembangan anaknya seperti apa.”
Hal Negatif:
“ Ada beberapa kegiatan yang kurang leluasa dilakukan di rumah, karena kan kondisi rumah anak, bahkan Kakak, berbeda-beda. Juga sangat tergantung dengan internet dan perangkat.”
– Kak Robert
Hal Positif:
. Ada lebih banyak waktu karena jam belajar lebih sedikit.
. Punya ruang utk mengelola waktu dengan bebas.
. Komunikasi dg ortu lebih sering.
Hal Negatif:
. Banyak godaan/distraksi.
. Suasana belum tentu cocok utk belajar.
. Disiplin menurun.
- Kak Sizi
“ Banyak kesulitan di awal karena perangkat tidak mumpuni. Tapi sedikit-sedikit invest di perangkat dan rajin ngulik jadi lama-lama terbiasa. Ada juga keterbatasan dalam pengambilan data amatan. Kalau di PGTK kan tidak ada LK atau review, jadi betul-betul perlu mengamati anak. Tapi karena ada keterbatasan di perangkat, dll jadi amatan memang tidak bisa sebanyak di sekolah.”
- Kak Robert
Kemudahan :
. Materi lebih sedikit, seingga perencanaan lebih mudah.
Kesulitan :
. Komunikasi dengan murid jadi sangat susah.
. Tidak bisa mengamati langsung.
. Penjelasan materi juga lebih sulit.
- Kak Sizi
“Kakak sejauh ini masih bergantung ke media-media itu sih. Setiap hari ngajar selalu pakai gmeet. Ditambah buat video juga untuk tambahan panduan. Media lainnya belum tahu.”
- Kak Robert
“Untuk pertemuan tatap muka/komunikasi, tampaknya aplikasi di atas sudah baik. Namun kakak juga kerap membuka ruang belajar mandiri di murid utk eksplorasi minat/pengetahian/wawasan. Medianya bisa menggunakan G-class/video/foto.
- Kak Sizi
“Variasi kegiatan yang perlu diperhatikan. Mungkin juga karena Kakak pegang kecil, jadi sesederhana makan bersama juga anak-anaknya sudah senang. Tapi kalau buat Kakak pribadi, kalau Kakak sendiri pastikan dulu Kakak suka dengan kegiatannya. Nanti energinya terbawa dan akan menyenangkan juga buat anak-anak.”
- Kak Robert
“Kalau kakak menggunakan berbagai bentuk kegiatan yg seimbang (LKS-berkarya-proyek-obrolan santai-buka wawasan-eksplorasi lingkungan-dll). Tapi kan menyenangkan itu relatif. Jadi seharusnya murid-murid juga belajar memberi makna pada setiap kegiatan, sehingga bisa menjadi senang saat mengerjakannya. Rasa senang itu adalah keputusan kita, bukan dari luar diri kita.”
- Kak Sizi
“Kalau sejauh ini memang dari Kakak-kakak sepakat menurunkan ekspektasi. Sepanjang anak-anak masih semangat sekolah, masih jadi indikator keberhasilan. Ada beberapa indikator lain sesuai jenjang juga yang diperhatikan sih, tapi disesuaikan dengan kondisi sekarang. Jadi kalau dibilang sama mungkin nggak, ya. Tapiiii sebetulnya, kalau menurut Kakak pribadi, hasil belajar di rumah juga tetap bisa baik, kok. Soalnya yang namanya belajar kan sebetulnya di mana saja, ya. Asal anaknya mau belajar, untuk yang masih kecil-kecil terutama, orangtuanya juga mau mendampingi, belajar di rumah juga bisa oke.”
- Kak Robert
“Jelas tidak. Proses BdR banyak kekurangannya. Ini kan hanya solusi sementara.”
Dari wawancara dengan Kak Sizi dan Kak Robert, dapat diambil kesimpulan bahwa proses pembelajaran online atau BdR ini memiliki beberapa kelebihan dan juga kekurangan.
Kelebihan dari BdR ini, orang tua dapat melihat perkembangan anaknya sendiri dan anak dapat meluangkan waktu lebih banyak dengan orang tuanya di rumah. Namun kekuranganya, banyak kegiatan yang tidak dapat dilakukan seperti sebelum adanya pandemi, dan Kakak-kakak sulit mengamati perkembangan muridnya.
Ternyata salah satu cara lain/alternatif selain mengajar menggunakan media chat dan voice chat adalah menggunakan google classroom sebagai media pengumpulan tugas-tugas perlajar yang khususnya untuk SMP, namun karena KB belum ada tugas yang harus dikumpulkan jadi masih bergantung dengan media chat dan voice chat.
Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk membuat kegiatan sekolah online ini seru dan menyenangkan meskipun berbeda di setiap jenjangnya.
Untuk jenjang KB cara itu dapat berupa makan bersama, hal ini dapat semua murid-murid senang. Sedangkan untuk jenjang SMP, dengan obrolan santai membahas tentang hal-hal yang sedang terjadi di sekitar ataupun membahas tentang pelajaran membuat suasana menjadi menyenangkan.
Dan menurut artikel http://kompas.com&sa=D&source=editors&ust=1631241894053000&usg=AFQjCNGPHSnzi-n6bWV_5Nm30UCeYt_rgQ">kompas.com, cara BdR berjalan dengan efektif adalah:
Dafta Pustaka:
(diakses pada tanggal 10/09/2021)
halo rain, bisa ditambahkan foto/gambar supaya artikelnya jadi lebih menarik