"Ibu mendoa. Ayah menjaga.
Agar kau kelak, jujur melangkah."
- Bing Slamet, Belaian Sayang
Tepat 11 tahun lalu, saya menuangkan pikiran tentang sulitnya membaca manusia di sini: https://ratrikendra.blogspot.com/2012/05/maha-biasa.html?m=1. Lalu seminggu lalu, kami membahas tentang proses 'membaca diri'. Lalu, saya termenung cukup lama dalam diam.
Sebetulnya, siapa saya?
Apa keinginan terbesar saya?
Mengapa saya seperti ini sekarang?
Sejauh mana saya bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik?
Konon, manusia begitu dinamis, sekaligus statis. Kerap kita merasa jalan di tempat. Melihat kanan-kiri, orang lain tampak melesat. Kadang ada titik nyaman ketika kita sudah merasa cukup. Namun, ternyata seringkali Tuhan kembali 'menggoncang', menguji keimanan kita padaNya.
Pernah saya terlibat dalam suatu diskusi pelik, dalam mata kuliah favorit saya sepanjang masa: Analisis Eksistensial. Tentang kedirian manusia, dilihat dari berbagai sudut pandang dan bentuk cermin. Kami disadarkan, bahwa sebelum membaca orang lain, bacalah dirimu sendiri. Dalam diskusi tersebut, ada suatu analogi, kedirian manusia seperti kulit bawang. Lapis demi lapis persona, yang dengan sadar kian bertambah seiring usia.
Kita seakan semakin piawai menyesuaikan diri dengan lingkungan, namun seringkali kita juga terjebak atau hanyut kehilangan diri saat berada di dalamnya. Menyematkan berbagai identitas, terkait hal-hal yang kita anggap bagian besar atau representasi dari kita. Hasilnya, ketika kita berdialog dengan diri sendiri dan tidak perlu menyesuaikan dengan siapa atau apa, kita hampa, bimbang: Kalau aku bukan itu, atau ini, lalu aku siapa? Lalu kita sibuk mencari kata sifat yang 'kita banget'. Tanpa disadari, seringkali kata tersebut mungkin hanya mewakili lapis luar diri kita, dimana kita ingin dilihat baik oleh orang lain.
Sejujurnya, hal yang paling sulit adalah jujur terhadap diri sendiri. Dulu, seringkali saya merasa 'baik-baik', atau 'harusnya bisa'. Menolak menganggap bahwa saya butuh bantuan orang lain. Lupa, bahwa selalu ada Maha Kuasa yang akan terus menguji seberapa saya kenal terhadap kapasitas dan kemampuan diri saya. Lalu, seringkali merasa patah, saat disadarkan bahwa saya masih manusia.
Saat ini, dengan penuh sadar, saya banyak belajar. Bahwa hakikatnya manusia adalah maha biasa, yang senantiasa bertumbuh dan berkembang. Seringkali dalam prosesnya kita perlu berjeda. Menyelaraskan seluruh aspek kedirian kita, minta izin pada Yang Kuasa, agar mantap membaca arah dan menjejakkan langkah. Semoga.
Terima kasih. Ini tulisan keren.
Wah, saya yang makasih, Pak Joe 🙏🏼
Waaw. Juara ini esainya. Jero... nuhun pisan ka Wiwit... 🙏