Beberapa waktu lalu aku diberikan kesempatan untuk jalan jauh bersama kakak-kakak smipa, di hari pertama kami berjalan bersama mungkin sekitar 8 KM jauhnya. Di hari kedua kami berjalan menanjak menuju sebuah bukit yang biasa disebut gunung batu.
Perjalanan pertama kami jalani bersama dengan riang gembira sambil mencari beberapa gambar yang sebelumnya sudah diberikan, sepanjang jalan banyak hal yang bisa ditertawakan, berlebihan bila ku bilang perjalanannya tidak melelahkan tapi kukira cukup menyenangkan sampai melampaui rasa lelah itu.
Hari berikutnya, kami berjalan mengejar matahari terbit. Ada yang berbeda karena kami berjalan sendiri-sendiri, masing-masing diberi jarak agar tidak kontak satu sama lain, tidak ada hal yang bisa dilakukan selain merenung sambil terus melangkahkan kaki pada saat itu. Karena jalannya menanjak, nafas menjadi terasa lebih berat, berkali-kali kubilang pada diriku untuk mengatur nafasku. Perjalanan di hari kedua memang tidak sepanjang perjalanan pertama namun ada peningkatan ketinggian sehingga jalan yang ditempuh lebih menanjak. Dan memang terasa lebih berat.
Selalu kubilang bahwa “puncak bukan tujuan” namun selama ini aku tak pernah punya kesempatan berjalan sendirian, sehingga mungkin kata-kata itu terdengar kosong saat itu. Kini aku lebih memahami bahwa sebuah perjalanan bukan hanya tentang arah dan tujuan, bukan hanya tentang bagaimana caranya kita sampai kesana, yang lebih kuhargai ialah orang-orang yang membersamaiku. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing kalo kata peribahasa, berjalan sendirian pun aku bisa tapi aku tak mau berjalan kesepian. Walaupun terkadang, saat benar-benar lelah aku akan menghemat kata-kataku tapi keberadaan orang disekitarku membantuku untuk menghayati perjalanan menuju puncak bonusnya berbagi lelah dan rasa aman bersama.