Pagi hari ini tidak ada yang istimewa, yah seperti biasa saja, menjalani hari dan pola sama yang berulang. Namun aku sendiri berpikir pola ini akan sampai kapan berakhir, aku jujur saja ingin menciptakan pola kehidupan yang baru. Aku merenung sebentar, melihat langit-langit kamar, dinding kamar, dan sorotan mataku terhenti di jendela kamar yang belum aku buka, pantas saja pengap, lantas aku membuka jendela kamar, wow pikirku, udara sangat segar, menyapa kedua lubang hidungku dan udara itu bersalaman bersama kedua paru-paruku, segar sekali, untung Tuhan mencipatakan oksigen, kalau tidak mana mungkin darahku akan mengalir di pembuluh, dan mana mungkin jantungku akan berdetak, untuk pagi hari ini aku ucapkan terima kasih kepada sel darah putih, yang selalu senantiasa mengobati luka yang ada pada tubuhku, namun untuk luka masa lalu sepertinya sel darah putih tidak bisa melawannya deh, oh iya aku ucapkan terimakasih juga kepada makrofag masih sama dengan sel darah putih, tapi gerakan ia lebih lambat, tapi sangat brutal dalam membunuh bakteri dan kuman (tuh kan aku melantur).
Setelah menarik nafas dalam-dalam melihat landscape daerah rumahku yang penuh dengan bangunan-bangunan rumah, dan jujur maaf sekali, bangunan-bangunan rumahku sangat angkuh, semua berbondong-bondong ingin terlihat lebih tinggi, padahal ini gang, seenaknya saja menghalangi pemandanganku untuk melihat langit. Aku ke lantai bawah untuk meminum air putih, tegukan pertama sungguh sangat segar, tegukan ke dua masih segar, tegukan ketiga biasa-biasa saja, tegukan keempat, aduh air putih itu jadi ga enak. Setelah melakukan beberapa aktivitas yang sungguh sangat basic, tiba-tiba notifikasi handphone ku menyala, aku lihat notifikasi tersebut, oh ternyata dari teman baruku yang tidak lama ini aku mengenal dia, namanya Asa, aku mengenalnya di Semi Palar, karena kita sama-sama menjadi "kepingan" (calon kakak), aku baru berinteraksi dengan dia satu kali saja, ketika awal pertemuan. Dia menanyakan kepadaku bagaiamana cara menamai blog category di ririungan semi palar, lalu aku menjelaskannya, tulis saja "atomicessay" nah untuk tag, baru deh kita yang bisa mengklasifikasikannya.
Namun percakapan kita tidak berakhir disitu saja, kami bercakap seputar pekerjaan, dan aku menceritakan keresahanku di lingkungan kerjaku yang sebelumnya, yang dimana etos kerjanya tidak aku sukai sama sekali, apalagi "pemimpinnya" yang bersifat seenaknya, dan Asa menceritakan pengalaman dia ketika ditugaskan di Papua untuk mengajar, pikirku keren sekali, aku ke Garut dua hari saja sudah homsik, aku cinta bandung. Aku tidak bisa membayangkan kehidupanku di Papua, disana tidak ada cilung, seblak, dan cimol bojot aa, karena menurutku aci di Bandung itu ibaratkan sumber energi bagi aku, karena aci sendiri sungguh dekat dengan kata Chi ち (aliran energi dalam budaya bangsa Tionghoa).
Aku senang sekali bisa bertukar pikiran dengan orang baru, karena ada benarnya literasi itu tidak terbatas pada kertas, bahkan insight dan pengalaman orang lain juga merupakan literasi, kami juga sedikit berbincang tentang moralitas, dimana Asa menanyakan dengan pertanyanyaan seperti ini
"Kamu sepakat ga hitam itu gelap dan putih itu terang?" Asa bertanya.
lalu aku menjawab "Ga bakal tau itu putih atau gelap kalau ga ada matahari".
"Yaa harus melibatkan subjek lagi dong" Asa menanggapi.
"Iya yang nyiptain Matahari kan Gusti, pada akhirnya norma yang ada diciptakan berdasarkan wahyunya" jawabku.
Lalu aku meneruskan denga penjelasan yang aku pikir itu terlalu rumit untuk diucapkan di pagi hari, padahal kopi saja belum ku seduh, aku berpendapat berdasarkan pertanyaan dari Asa, bahwa selamanya yang hitam itu belum tentu gelap dan putih belum tentu terang, dilematis nilai moralitas yang diyakini manusia itu beragam, namun pada akhirnya moralitas itu dibentuk berdasarkan kesadaran kolektif, dan kumpulan entitas bisa menentukan mana yang benar dan salah berdasarkan kesepakatan bersama, seperti contoh kasus "Membunuh orang karena harus membela diri", membunuh itu jelas salah, tetapi jiga dia tidak membunuh, maka dia yang akan terbunuh, dilematis bukan?. Pada akhirnya benar dan salah itu menjadi suatu kebiasaan menurutku, apalagi bila dikorelasikan dengan moralitas, kasus yang tidak lama ini terjadi, seorang pencuri pisang (salah), dia mencuri pisang karena harus memberi makan adiknya, lalu tertangkap dan diarak keliling kampung oleh warga (dipermalukan). Nah, apakah mempermalukan orang lain yang berbuat salah itu benar? tentu tidak jiga berdasarkan prinsip moralitas yang aku yakini, alasannya sudah jelas kan dia mencuri pisang karena adiknya kelaparan, dan hukuman itu terlalu berlebihan bagiku, berbeda dengan yang mencuri uang 271 Triliiun dan di penjara hanya 6 Tahun hehe.
Setelah bercakap panjang lebar, Asa memberikan tantangan kepadaku, untuk menulis di blog, berdasarkan percakapan kita, dan aku menyetujuinya, asik juga pikirku. Selebihnya obrolan kita berputar soal film serta maknanya, dan masih banyak lagi.
Tapi yang pasti aku pelajari pagi hari ini, aku mendapatkan sesuatu dari hal sekecil apapun. Dan aku sangat senang ngobrol dengan orang lain, aku menamainya "power of ngobrol". Akan aku akhiri tulisan ini dengan pantun. Masak aer biar mateng, masak aer biar mateng, udah.
Tantangan diterima dengan sangat baik!
Masak air biar mateng, masaknya ditemani Bu Asih, sekian dan terima kasih.