AES 893 Semua Ada Waktunya
joefelus
Friday November 3 2023, 8:13 AM
AES 893 Semua Ada Waktunya

"Hello, how are you doing?" Tanya seorang dokter ketika masuk ke dalam ruangan. "And who is that?" Lanjutnya lagi sambil menunjuk saya.

"I am doing great. That's my Husband, Jo." Jawab Nina.

Dokter menghampiri saya lalu bersalaman sambil saling menyapa. Dokter lalu menjelaskan tentang progress yang sedang terjadi. Angka-angka dari hasil laboratorium banyak sekali kemajuan dan kemungkinan besar Nia akan diperbolehkan pulang besok. Pada saat ini pihak rumah sakit sudah menemukan jenis bakteri apa yang ada dalam darah tapi masih menunggu hasil apakah antibiotik yang diberikan dapat berfungsi secara efektif. baru sesudah hasilnya jelas, Nina akan diijinkan pulang.

"Ada pertanyaan?" tanya dokter. Saya langsung bertanya.

"Dok, jadi bakteri yang mengakibatkan sepsis itu sudah masuk ke aliran darah? So were we too late?" tanya saya

"Betul. Waktu Nina tiba di sini kondisinya memang sangat mengkhawatirkan tapi begitu diberi antibiotik, tubuhnya dapat bereaksi sangat positif dan cepat, sehingga Nina dapat melewati kondisi yang mengkhawatirkan itu." Jawab dokter. "Tidak terlalu terlambat, kok." Tambahnya lagi.

Kami ngobrol beberapa saat lalu dokter pergi karena masih banyak pasien yang lain. Saya masih menemani Nina selama beberapa saat. Di luar sudah mulai gelap, matahari sudah terbenam. Saya masih punya tugas untuk mencari krim karena ternyata varian Covid yang kami idap ini mempunyai efek samping berupa ruam. Saya hanya ada sedikit di beberapa tempat tapi kasihan Kano karena hampir sekujur tubuh.

Saya kemudian pergi dan sambil mengemudi saya mulai merenung. Nina sangat beruntung karena mendapat penanganan yang cepat dan tepat sehingga kondisi yang sangat berbahaya itu dapat dilewati. Hari Senin malam, sesudah Nina dipindahkan dari ruang ER ke kamar biasa, dia mengalami masa kritis. Ini saya sama sekali tidak tahu. Saat itu Nina demam sangat tinggi, dia sempat tertidur dan ketika terjaga ada entah 5 atau 6 perawat yang sibuk mengelilinginya. Tak lama kemudian Nina entah tertidur lagi atau kehilangan kesadaran karena demam yang terus memuncak. Nina kemudian dipindahkan ke ICU dan dirawat di sana. Kami sungguh berhutang nyawa kepada banyak dokter dan suster yang sudah merawat. Mereka sangat profesional, gesit, cekatan dan luar biasa sehingga kami dapat melewati masa-masa yang menakutkan itu.

Tenggorokan saya mulai kering dan merasa tercekat ketika menyadari bahwa situasi ini kemungkinan besar tidak akan tertanggulangi bila kami sudah berada di tanah air. Bukan tidak mempercayai dokter di tanah air loh, terus terang yang namanya MRI dan CT scan itu bukan tindakan yng secara spontan dan mudah dilakukan setiap orang. Yang saya bayangkan pasti kami akan ke dokter umum, lalu? Belum lagi memikirkan biaya. Berapa CT scan dan MRI? Ya banyak sekali faktor yang menentukan. Apakah jika memang disuruh dokter kami dapat melakukannya tepat waktu? Harus menunggu berapa lama? Apakah pihak laboratorium akan langsung memberikan hasilnya kepada dokter? 12 jam itu yang dibutuhkan untuk bakteri menyebar kemana-mana. Saat ini saja seperti yang dokter katakan bahwa bakteri sudah memasuki aliran darah dan pada saat kritis, dokter katakan besar kemungkinan kita akan kehilangan Nina.

Saya mengemudi sambil merinding dan mulai terasa mata saya membasah. "Ya Tuhan, semua ini tentunya tidak terjadi begitu saja secara kebetulan!" Nasib kah? Takdir kah? Ini adalah pengalaman spiritual yang sangat dalam.

Pengalaman ini sangat mengejutkan, sangat menakutkan tapi juga membuat saya berkontemplasi akan betapa berharganya kehidupan ini, betapa berharganya dapat berada bersama orang-orang yang saya cintai. Mudah-mudahan teman-teman dan para sahabat saya tidak akan mengalami ini. Sepsis bukan hal yang sederhana untuk dijalani. Itu kalau ketahuan, jika tidak? Segesit dan secekatan dokter di sini, dengan peralatan lengkap dan muktahir, semua masih tergantung pada manusianya. Jika saja saya tidak menjawab telepon 3 malam yang lalu, apa yang terjadi? Kuncinya adalah penanganan yang tepat dan cepat.

Kita harus menghargai waktu. Betapa berartinya waktu jika kita pikirkan secara mendalam. 12 jam menentukan hidup dan mati. Kami yang tidak tahu apa-apa memang pada saat itu tenang-tenang saja, bahkan di ER kami masih bergurau dan tertawa-tawa walaupun dokter berkata,"You are sicker than you think you are ." Saya harus berterimakasih pada dokter itu yang tidak secara terus terang mengatakan sepsis dan betapa kritisnya saat itu. Saya tentunya tidak akan bisa tidur dan jam-jam itu dipenuhi dengan rasa tercekam.

Saya banyak belajar dari pengalaman ini. Semua ada waktunya! Suatu yang tertunda bukan berarti sebuah kegagalan. Sesuatu yang tertunda mungkin memang sudah digariskan untuk seperti itu, karena segala sesuatu terjadi karena ada alasannya. Everything happens for a reason! Kita tidak akan mampu memaksakan takdir.

Hidup itu sangat berharga, kita tidak boleh menyia-nyiakan. Waktu itu sangat penting, kita harus sangat menghargainya. Life is precious, time with loved ones is priceless, we have to cherish our time and take care one another. Terima kasih sudah bersedia bersama saya pada saat-saat seperti ini.

Foto credit: thebump.com

You May Also Like