AES 1199 Makanan OK, Kopi?
joefelus
Thursday September 12 2024, 9:36 AM
AES 1199 Makanan OK, Kopi?

Mumpung masih hangat di pikiran, saya kali ini ingin melanjutkan obrolan tentang kesan saya seputar makanan-makanan dan kopi yang sudah saya coba selama 1 bulan ini.

Menangis.Yang pertama soal pelayanan. Tidak hanya dalam urusan makanan, pelayanan segala macam bentuk usaha yang berkaitan dengan jasa di Bandung ini menurut saya agak terlalu berlebihan. Bukan dalam konotasi negatif loh, dan saya juga mengerti mengapa mereka melakukan ini, yaitu karena persaingan yang sangat amat brutal. Saya pernah berkecimpung dalam bisnis makanan di kota Bandung, dahulu kala dan saya kapok karena banyak faktor non teknis yang sangat mengganggu, tapi ini obrolan lain. Kita kembali ke pelayanan. Pertama yang saya perhatikan, banyak tempat yang menyambut ketika kita tiba di pintu masuk. Pintu dibukakan, disapa dengan super ramah, bahkan ada yang membungkuk dengan dua tangan dikatupkan di depan dada. Lalu proses seperti biasa ditanya berapa orang lalu ada pilihan tempat merokok dan tidak. Lalu hal yang seperti biasa memesan dan penyajian. Sambutan selalu luar biasa, tapi ada hal penting yang selalu dilupakan. Semua restoran yang saya datangi selama hampir 1 bulan ini tidak menanyakan soal makanan pada pelanggan sesudah beberapa menit disajikan. Mungkin ini bukan praktik yang biasa dilakukan. Misalnya jika ada yang memesan steak, setelah beberapa menit disajikan, pihak restoran seharusnya bertanya tingkat kepuasan pelanggan, apakah steaknya memenuhi tingkat kematangan yang diharapkan, rasa dan sebagainya. Ini salah satu bentuk pelayanan yang baik yaitu memastikan pelanggan nyaman dan menikmati makanan sesuai dengan selera mereka. Ini belum pernah saya alami di sini.

Peristiwa yang menarik yang saya alami satu kali adalah seorang pramusaji yang menangis hahaha.. Saya bersama seorang sahabat duduk menikmati kopi dan makan siang. Restoran atau cafe ini lumayan bagus, desainnya menarik dan makanannya juga unik, salah satunya saya menikmati pizza. Nah pizza bukan menu yang menarik buat saya tapi karena menggunakan sei sapi dan daun pepaya, maka saya jadi tertarik dan benar saja, sentuhan tradisional membuat sajian ini memiliki nilai tambah yang sangat baik. Sahabat saya ini senang berantem kalau urusan bayar. Jadi saya harus cerdik. Jadi begitu dia cuci tangan saya menyelinap dan membayar. Beres! Saya menang! Dan peristiwa seru pun terjadi. Pramusaji tadi ditegur oleh sahabat saya karena konon diawal dia diingatkan agar saya tidak diperkenankan membayar. Menangislah dia di depan khalayak ramai. Saya tertawa-tawa karena ini menarik dan lucu walau tampaknya pramusaji ini terluka perasaannya. Kalau ingin profesional, mungkin sebaiknya dia sembunyi dan menangis di sana, tapi kalau tidak begitu drama kurang seru. Hahahaha..

Menu. Yang saya perhatikan restoran atau cafe di Bandung menawarkan menu yang luar biasa kreatif. Apa saja yang kita inginkan pasti ada, makanan Asia dari negara-negara tetangga semua lengkap, makanan Eropa atau Western juga menjamur dimana-mana. Yang perlu saya perhatikan adalah ke-original-annya. Seperti yang saya sebutkan kemarin, Spaghetti Aglio e olio, banyak yang tidak otentik. Kalau mau yang otentik, pasti bagi pelanggan harga yang mereka tawarkan menjadi terlalu mahal sebab ingredients-nya sangat sederhana, bawang putih, minyak jaitun, chili flakes (atau cabe bubuk kasar) dan parsley. Saya tidak akan pernah pesan ini. Memang banyak yang berkilah bahwa makanan adalah seni, sehingga kita bebas melakukan apa saja, menambahkan apa saja, itu merupakan bagian dari kreasi. Saya setuju. Soal memasak tidak ada benar atau salah, tapi teknik, ketrampilan dan pengetahuan juga penting sebab banyak jenis makanan tradisional yang menuntut keaslian. Dan karena menikmati makanan bagi saya merupakan bentuk dari proses belajar, maka saya ingin yang asli terlebih dahulu, selama saya belum mengetahui yang asli, saya tidak akan bereksperimen terlalu jauh.

Makanan tradisional merupakan highlight dari semua petualangan saya akhir-akhir ini. Kasarnya, I need to catch up! Saya banyak kehilangan selama bertahun-tahun di rantau. Makanan Western saya sisihkan dahulu karena itu sudah pernah menjadi keseharian saya. Jadi untuk saat ini tidak spesial. Nah, saya mengikuti beberapa food blogger sebagai bahan referensi. Jika memperhatikan unggahan mereka, kekayaan kuliner kota Bandung sangat luar biasa. Kota Fort Collins, tidak ada seujung jarinya jika membandingkan dengan jumlah restoran yang menawarkan kreatifitas mereka. Sangat luar biasa! Memang tidak semua memuaskan saya, tapi saya tidak akan pernah kehabisan opsi!

Oh ya, saya juga ingin berbagi soal nama hidangan. Banyak tempat yang karena ingin nama-nama hidangan yang mereka sajikan terdengar spesial, mereka menggunakan nama asing. Sah-sah saja selama penulisannya tepat dan sesuai dengan yang mereka sajikan, tapi juga harus benar. Karena kesalahan sedikitpun akan menunjukkan sebuah "kekurangan" serta ke tidak profesionalan. Satu yang menjadi kebiasaan saya adalah tidak memilih makanan yang penulisan serta penjabaran yang salah. Kalau nama dan penulisan saja tidak benar, maka saya ragu apakah mereka sesungguhnya mampu menyiapkan serta menyajikan makan itu. Logis sekali bukan? Hahaha..

Kopi. Dulu saya saya bukan penggemar kopi seperti sekarang ini. Pengetahuan saya tentang kopi juga sangat dangkal. Jadi pernilaian saya sangat subjektif dan berdasarkan suka atau tidak suka. Saya tidak suka kopi yang memiliki kadar keasaman tinggi sebab akan membuat pencernaan saya tidak nyaman, jadi kopi yang "asam" akan saya hindari. Kegemaran saya sangat standar, kopi susu dengan saus karamel. Susu sebaiknya almond atau oats, kadar gula seminim mungkin dan karamel hanya sebagai variasi rasa. Nah sampai di sini saya banyak terbentur pada rasa kecewa. Banyak kedai kopi yang terlalu bangga pada produk mereka sehingga kaku dan tidak mau memberikan kelonggaran pada pelanggan. Padahal caramel latte pasti selalu mudah dapat mereka buat, hampir semua kedai mempunyai susu, kopi dan saos karamel, tapi tidak semua mau melayani saya. Mereka begitu terpaku pada menu yang mereka miliki. Ini membuat saya kecewa. Kedua kadar gula. Saya selalu minta setidak-tidaknya setengah atau seperempat takaran, dan banyak tempat yang menolak melakukan itu. Kecewa lagi. Terakhir susu. Jaman sekarang banyak orang yang tidak mampu mencerna susu dan harus memilih mengkonsumsi jenis "susu" yang lain seperti yang terbuat dari almond atau oats, bahkan kelapa. Nah banyak sekali tempat yang hanya menawarkan susu sapi. Mungkin suatu saat, pasar penikmat susu yang bukan susu seperti saya akan semakin besar dan saya akan lebih leluasa menikmati kopi setiap hari.

Apakah ada teman-teman yang ingin berbagi tempat kopi dan makan mana yang harus saya datangi? Dengan senang hati saya akan coba.