Menurut penelitian katanya lebih dari 60% orang dewasa mengakui memiliki ketakutan akan sesuatu tanpa memiliki alasan yang jelas. Saya punya minimal 3. Ini yang masih saya rasakan.
Saya takut angsa dan sejenis bebek yang berleher panjang. Selama musim dingin dan sebagian musim semi, daerah tempat tinggal saya dipenuhi dengan Canadian Geese. Ini sejenis bebek atau angsa yang berwarna hitam yang melakukan migrasi setiap tahun ke daerah saya untuk kawin, bertelur dan membesarkan anak. Jumlahnya ribuan, dan memenuhi banyak lapangan, danau dan tempat-tempat lain. Yang membuat repot mereka membuang kotoran di mana-mana sehingga seringkali udara menjadi bau kandang ternak. Dan lebih repot lagi ketika mereka sedang mengerami atau sedang "mengasuh" anak-anak mereka yang baru menetas, biasanya galak-galak. Saya yang punya pengalaman buruk dengan angsa di masa kecil, hingga sekarang selalu mengindari mereka, terutama kalau sudah menjulurkan lehernya dan mengeluarkan suara mendesis, itu artinya mereka marah dan siap menyerang.
Ketika saya masih kecil, saya sering bermain di tanggul sungai. Kebetulan rumah saya memang dekat sungai, di situ saya juga belajar berenang dan bermain layangan! Tempat yang penuh kenangan masa kecil, tapi juga tempat yang hingga sekarang mengingatkan saya pada ketakutan terhadap angsa. Waktu itu saya bermain sendirian dan entah mengapa, meskipun saya takut ketinggian, saya melewati tempat di belakang pabrik penggilingan beras yang memiliki ketinggian yang menakutkan dan ada lorong yang hanya selebar 30 centimeter dengan kiri dan kanan ruang kosong sempit serta curam. Ini menakutkan bagi saya yang takut ketinggian, tapi waktu itu saya merasa ditantang. Walau dengan gemetaran takut jatuh dan takut ketinggian, saya melewati lorong itu. Jika saya jatuh sudah pasti cidera sebab tinggi sekali. Saya melewati lorong itu dengan selamat dengan dada berdebar-debar karena rasa takut ditambah kaki serta lutut gemetar. Saya berjanji tidak akan melewati lorong itu lagi. Sebuah keputusan melawan tantangan yang bodoh!
Tiba di ujung lorong ada sekelompok angsa dan mereka merasa terganggu dengan kehadiran saya. Mereka marah dan semua menjulurkan lehernya dengan suara mendesis. Saya hanya punya 2 pilihan, balik kanan dan kembali melalui lorong curam yang mengerikan itu atau menerjang angsa-angsa itu. Saya benar-benar tersudut dan angsa-angsa marah itu semakin mendekat. Suara desisannya hingga sekarang masih saya ingat, entah ada berapa angsa yang marah itu, yang jelas saya sangat ketakutan dan terpojok tanpa tahu harus melakukan apa. Saya betul-betul panik! Mundur melalui lorong saya ketakutan, maju menghadapi angsa-angsa itu juga mengerikan. Saya menoleh ke kanan dan kiri berusaha mencari bantuan kalau-kalau ada orang lain. Nihil! Saya sendirian dan tidak berkutik menghadapi rasa takut. Paruh-paruh angsa itu semakin mendekat dan tingggal beberapa centimeter dari kaki saya. Saya ada di sebuah sudut dan satu-satunya cara menyelamatkan diri adalah lari ke lorong. Jalan kaki perlahan-lahan saja sudah menakutkan takut jatuh ke bawah yang gelap dan sempit tidak terlihat dasarnya, apalagi harus lari menghindari angsa!
Semakin panik saya semakin kehilangan akal. Tanpa pikir panjang saya lari menerjang angsa-angsa itu. Paruh angsa-angsa itu terasa bergesekkan dengan kaki saya. Yang saya ingat adalah berlari sekencang-kencangnya sambil menutup mata karena ngeri dan tahu-tahu saya sudah terlepas dari bahaya. Angsa-angsa itu berusaha mengejar tapi say jauh lebih cepat dan berlari sekuat tenaga tanpa berhenti hingga ketika menoleh kebelakang mereka sudah jauh tertinggal. Saya baru berani berhenti berlari dan setengah membungkuk sambil tangan memegang lutut karena kehabisan napas. Sejak saat itu saya menghindari angsa hingga kini tinggal di Fort Collins dan setiap tahun saya harus menjaga jarak sejauh mungkin dengan mereka. Beberapa kali ketika terpaksa lewat dekat mereka ada yang marah karena pasangannya sedang mengerami atau sedang mengasuk anak. Ya mereka galak dan saya masih takut mereka!
Takut ketinggian saya belum juga dapat ditanggulangi. Beberapa kali saya berkeringat dingin ketika berada di gedung tinggi seperti World Trade Center di New York sebelum hancur ditabrak teroris, atau ketika disemangati Anthon dan Vega ketika mendaki puncak mahkota Liberty Statue di tengah pulau kecil di New York Juga. Saya tidak pernah berani naik roller coaster, sekali atau 2 kali saya naik perahu yang terombang ambing di Dunia Fantasi dan hampir muntah karena ketakutan. Pokoknya saya masih menghindari ketinggian sebisa mungkin.
Ketakutan yang berikutnya adalah Ular! Saya tidak suka ular, saya takut ular dan tidak mau berdekatan dengan mereka. Itu gara-gara saya senang bermain di lokasi pemakaman ketika masih kecil. Kenapa suka bermain di sana? Sebab saya suka sekali dengan tanaman pletekan atau kencana wungu. Tau khan tanaman itu? buahnya ketika sudah mengering jika terkena air akan meletus dan melemparkan biji-bijinya. Itu cara mereka berkembang biak. Paling banyak tanaman pletekan ya di pemakaman. Saya ketika kecil bisa seharian bermain di sana diantara nisan-nisan kuno yang sangat besar karena itu adalah pemakaman Belanda dan Tionghoa. Bahkan ada yang seperti pendopo dengan lantai yang jauh lebih bersih dan mewah dibandingkan dengan tempat tinggal saya sendiri. Saya dulu sering menghayal tinggal di istana, padahal hanya tidur-tiduran di lantai pendopo kuburan! Hahahaha..
Nah suatu peristiwa ketika sedang mengumpulkan buah pletekan, saya petiki satu persatu dengan hati-hati dan saya masukkan kantong plastik. Biasa sesudah terkumpul banyak saya bawa pulang untuk main dengan memberi air atau ludah! Namanya juga anak kecil! Hahahaha... Nah ketika sedang asyik-asyiknya memetik, ada ular besar! Saya melompat kaget dan lari ketakutan. Masih ingat hingga sekarang ular itu lebih besar dari lengan saya dan panjang sekali. Saya sampai tidak ingat kantong yang penuh pletekan itu tertinggal di mana. Yang saya ingat adalah lari sekencang mungkin dan menyelamatkan diri. Jaman kecil masih sering kami ditakut-takuti oleh orang dewasa akan adanya siluman! Apalagi saya ada di kuburan! Siapa tau itu bukan ular benaran tapi siluman karena sangat besar dan panjang! Untuk beberapa lama saya berhenti bermain di kuburan dan memilih tempat lain untuk mencari pletekan walau tidak sebanyak dan semudah mencari di daerah pemakaman.
Nah, sampai sekarang 3 ketakutan yang saya miliki itu masih terus ada. 2 binatang yang saya takuti dan ketinggian. Semuanya saya hindari. Hahahaha..
Sepertinya setiap orang punya ini ya pak.. saya juga penakut, banyak takutnya 😁