Bagiku kesendirian itu ibarat karakter dari diriku yang akan terus melekat, entah lingkungan seperti apa yang akan bersamaku, namun masih saja kesendirian itu ada pada diriku. Aku sering pergi ke warung kopi dengan teman, untuk melepas penat, dan ngobrol ngalor ngidul perihal kehidupan. Membahas pekerjaan dan hak guru yang disembelih, gaji yang tidak turun, membahas kapan nikah, atau membahas hal yang paling remeh sekalipun.
Aku menyukai berkumpul seperti itu, seakan-akan rasa kesendirian tidak ada pada diriku, kami bersama-sama mengobrol dalam obrolan hangat, aku merasakan mendapatkan pelukan hangat dari teman senasibku. Semuanya nampak baik-baik saja memang apabila di permukaaan, bahkan ada beberapa teman ku yang suka sekali membuat lawakan, namun aku yakin dialah yang paling menanggung beban kehidupan. Dan aku juga sering mempertanyakan konsep dari rasa syukur, bisa saja aku tidak bersyukur apa yang aku miliki sekarang, atau realistis saja, aku cuman ingin mempunyai upah yang cukup dan pergi ngopi seminggu sekali, itu sekarang cita-citaku.
Ah mau bagaimana lagi? nyatanya masa depanku tergantung diriku sekarang, pendambaan-pendambaan itu kini telah hilang sudah, yang nampak mata hanya apa yang sedang aku jalani sekarang. Menjalani hidup berdasarkan asas "Let it be" tidak buruk juga. Dan aku tidak perlu berusaha untuk menjadi main character di dunia ini. Cukup jadi diriku saja, eksis saja sudah buat aku yakin bahwa kehidupan itu memang layak untuk dijalani.
Aku beri tahu, biaya ke psikolog itu mahal untuk kaum menengah kebawah sepertiku, makanya dengan ngopi sederhana di warung, bareng teman-teman adalah coping mechanism yang aku pegang sekarang. Teman-temanku bukan konsultan kejiwaan, aku tau betul itu, namun yang aku tau jiwa-jiwa mereka yang membuat jiwaku sehat seperti sekarang. Dan aku sadar betul semakin dewasa lingkaran pertemanan semakin sempit. Dan aku sangat bersyukur sekali mempunyai waktu untuk ngopi bareng mereka walau hanya seminggu sekali. Update kehidupan masing-masing, menceritakan keresahan, mendambakan masa depan, dan mengukir tawa dinatara gelas kopi diatas meja dan asbak roko yang sudah penuh dengan puntung.
Terima kasih untuk teman-temanku, seruput kopi dan sehisap batang rokok adalah kenikmatan yang tiada tara, apalagi ada kalian. Semua nampak seperti baik-baik saja