Kota Zckloch, sebuah kota kecil, asing di tengah-tengah hutan belantara, seakan sebuah peradaban di tengah alam, kota ini ditutupi oleh pepohonan dan rumput ilalang yang tinggi, menutupi jarak pandangan orang-orang untuk melihat dari luar atau dalam kota. Kota ini masih terurus, masih ada orang-orang yang tinggal disini, beberapa anak-anak muda, kebanyakannya adalah lansia dan buruh pabrik, kota ini menjadi salah satu sasaran para “rangers”, sebuah lokasi yang penting, dari intel yang didapatkan 2 bulan lalu pabrik tersebut adalah pabrik senjata api, perusahaan lokal untuk senjata api, tapi baru-baru ini diambil oleh “Corvelas” dan “Farden Industries”. Mayoritas warga di kota ini bekerja sebagai buruh di pabrik tersebut, lansia yang tinggal disana adalah veteran perang dan buruh, meski sudah lansia kebanyakannya masih bekerja, seringkali mereka mengatakan kalau bekerja di pabrik tersebut cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, ekonomi di kota ini pun cukup stabil dan lancar.
Marie Colette, kebetulan ia ditugaskan bersama grupnya untuk melakukan patroli sekitar kota Zckloch, rombongan patroli dikirim menggunakan beberapa mobil UAZ-459 dan truk GAZ-66, dipimpin oleh 2 BTR-70 untuk perlawanan depan. Marie duduk di bak mobil GAZ-66, ditemani oleh 7 tentara “Westland Rangers”, tidak satu pun ia kenali, 5 pria dewasa, 2nya adalah seorang pemuda, kisaran usia 19-20 tahun, Marie yang mendapatkan tempat duduk paling dekat dengan kepala truk, barisan kanan, truk ini ditutupi dengan terpal cokelat tebal, Marie kepanasan, keringat mengucur dan mengalir di kepalanya, helm yang ia gunakan terasa menyusut, memberikan rasa pusing ke kepala Marie.
Perjalanan ini memakan waktu sampai 2 jam, jalan yang diambil bukanlah jalan raya, melainkan jalan pintas, melalui jalur bekas penebangan pohon. Seluruh rombongan berhenti di sebuah pabrik kayu yang terbengkalai, semua orang turun dari kendaraannya, sisanya langsung pergi dan mengamankan lokasi tersebut, lokasinya kosong, hanya hewan-hewan liar berkeliaran, Marie kebagian untuk turun paling terakhir dari truk, hampir semua pasukan sudah mulai melakukan patroli dan bekerja. Turun dari truk Marie melihat hewan-hewan liar berlarian, terdengar suara tembakan, suara ini hanyut oleh suara mesin truk yang terus mendengung, hanya Marie yang sadar dengan suara ini, Marie mencoba mengejar dan mencari sumber suara ini. Mengejar sumber suara ini cukup sulit, permukaan hutan yang tidak datar membuat Marie sulit untuk berlari, tanah dipenuhi oleh semak-semak duri dan tanah yang berbatu, Marie gagal untuk mengejar sumber suara ini, berhenti di depan sebuah pohon besar, di tanah tergeletak sebuah selongsong peluru 7.62×54mmR, peluru Mosin Nagant.