Sudah satu semester, tepatnya semester 2 ini di sesi pembelajaran di KPB kelas 11, dari semua kegiatan yang saya ikuti di KPB kelas 11 ini. Nurani adalah salah satu aspek yang saya pelajari dan kenali selama jalannya kegiatan di KPB, dari niat baik dan buruk, niat membantu atau rasa kepedulian antar teman satu kelas atau sebaliknya, semua kegiatan ini jatuh di atas unsur nurani sendiri, dimana bercabang dan memiliki fungsinya sendiri. Kegiatan nurani selalu berjatuh dengan topik sebelumnya, dalam proses saya mengikuti kegiatan proyek yang ada, beberapanya proyek inovasi kertas, proyek workshop kertas. Dari kedua proyek ini saya berusaha melatih kesadaran diri saya terkait niat baik saya, dan sambil mencoba bertingkah dengan bijak untuk mengontrol niat buruk saya, kedua aspek ini sering muncul secara tiba-tiba, biasanya yang terjadi adalah saya melakukan baik atau buruk secara tidak langsung tanpa menyadarinya, mengetahu kondisinya seperti ini, kadangkala saya terjebak dalam kondisi yang membingungkan, utamanya saat bertindak menangani situasi yang berhubungan dengan objek tersebut.
Dalam kegiatan saya sehari-hari, niat saya untuk berbuat baik tidak terlihat secara langsung dengan spontan, contohnya seperti niat saya untuk mengingatkan teman-teman saya terkait rutinitas harian, kebiasaan ini pernah saya lakukan, tetapi frekuensinya sangat minim, kadang saya teringat untuk mengingatkan tetapi kadang kala pernah merasa jika saya terus mengingatkan teman-teman saya, bisa berakhir dengan nasib dimana saya hanya termanipulasi untuk pengingat teman saja. Terkait dengan objek sebelumnya, niat baik saya sebenarnya tidak berhenti di situ saja, biasanya terlihat secara tidak langsung yaitu saat berbicara dengan teman-teman saya, sebisa mungkin saya menjaga konteks pembahasan saya, demikian saya bisa mendapatkan koneksi yang baik dengan teman-teman saya, untuk situasi ini biasanya berjalan seketika ada konteks pembicaraan proyek yang ditanggapi dengan serius, demikian saya berusaha memfokuskan objek itu, ditambah memikirkan apa yang perlu diprioritaskan.
Memutuskan apa yang baik dan buruk bukanlah sebuah keputusan yang berat bagi saya, setiap jalannya proyek inovasi kertas atau proyek workshop, peran yang saya dapatkan selalu dikerjakan dan dijalani tanpa berpikiri niat buruk, atau mementingkan kepentingan diri saya sendiri, seketika sebuah tugas muncul, biasanya saya langsung menyampingkan kepentingan lain terlebih dahulu, dan mengutamakan tugas utama, tetapi karena “biasanya”, jika ada sebuah kepentingan tertentu, biasanya yang dilakukan adalah mencoba mengalokasikan waktu tertentu, meskipun saya mengetahui tugas utamanya harus dijadikan fokusnya, tetapi kadang kala di situasi tertentu saya kesampingkan, demikian secara tidak langsung sering terjadi sebuah penghambatan, secara tidak langsung hal buruk terjadi tanpa disadari. Kesadaran diri saya selalu berjatuh ke kebiasaan yang tidak peduli dan tidak peka dengan lingkungan sendiri, kepekaan diri ini selalu berkaitan dengan semua permasalahan yang sering saya dapatkan.
Kepekaan diri terhadap lingkungan sendiri adalah sebuah keahlian yang tidak selalu saya miliki setiap saat, ketidak pekaan ini membuat saya cukup tidak bisa bertindak baik seketika saat berjalannya proyek, contohnya saat berjalannya proyek, membuat sebuah dokumen atau laporan, seketika tugas saya tuntas, saya biasanya kurang tahu apa yang bisa dibantu, ditambah tidak ada inisiasi yang muncul dari diri saya, demikian membuat saya terjebak dalam posisi sulit, dimana selama ini berakhir dengan kondisi saya hanya bisa diam saja. Demikian karena itu selama ini posisi saya selalu berakhir dengan membingungkan, mau mengambil posisi netral, tetapi berakhir dengan kondisi yang buruk atau baik, tanpa menyadarinya secara langsung.