Tepat pada hari ini saya berkegiatan di Gambung, tepatnya di desa Cisondari, salah satu area yang dijadikan fasilitas “Live in”. Kegiatan “live in” sudah mendekat, dari awalnya saya sempat merasa cukup khawatir dan panik dengan kegiatan ini, mendekati hari pergi ke Gambung. Sudah beberapa hari sebelumnya saya mempersiapkan semua peralatan dan keperluan untuk “live in”, dari tas, pakaian dan peralatan sekolah yang akan dibawa untuk keberlangsungan kegiatan. Mencapai pada hari H, kegiatan langsung bermulai, dari awalnya hampir ke sekolah dan memasukan semua peralatan yang akan dibawa untuk kegiatan tersebut, memasukan semua barang dan keperluan lainnya ke mobil, rasa panik mulai kembali muncul, rasa panik atau ketakutan ini disebabkan oleh kekhawatiran dengan barang bawaan saya, mengira ada bawaan yang tidak ada atau terlewat dari “list” yang dibuat untuk persiapan kegaitan ini. Dengan masuk ke mobil, rasa takut ini mulai hilang, berawalnya hilang rasa takut tersebut didapatkan seketika dalam tengah perjalanan tol, saya sedang mencoba mengingat kembali semua peralatan dan bawaan saya, satu persatu diingat. Semua alatnya sudah ada berdasarkan “list”, dengan tenangnya saya langsung menggunakan “earphone”.
Perjalanan ke Gambung saya berakhir dengan sampainya ke PPM, sampai di PPM yang saya pertama lakukan adalah mengangkat semua peralatan, berhubungan dengan logistik, saya sempat ragu apa saya bisa membawa tasnya sambil berjalan ke lumbung. Dengan memaksakan diri dan menarik nafas saya langsung menarik dan mengenakan tas tersebut, tasnya terasa lebih ringan dibandingkan saat kegiatan kelas di Semi palar, pertama kalinya saya merasakan keringanan ini, punggung saya lebih lega, tidak terasa sakit, saya membantu dengan membawa peralatan lainnya, mengantarkannya ke lumbung kecil dan lumbung utama. Semua peralatan yang kini diletakan di lumbung utama sudah terkumpul, dari katel dan pisau yang lengkap, peralatan ini bisa ada disini karena saya sudah mencatatnya di “mobile phone”. Kebiasaan mencatat ini akhir menunjukan keunggulannya, membantu dalam sebuah kondisi yang penting, tanpa adanya katel dan pisau, maka kegiatan masak tidak bisa berlangsung dengan lancar.
Mengakhiri sesi beres-beres, kegiatan hari Kamis dimulai dengan membantu Pak Dayat dengan kegiatan berkebunnya, dengan menebarkan pupuk non-organik di perkebunan teh PPM, kegiatan itu diawali dengan sebuah sesi pembukaan, kami diberikan panduan untuk cara menebarkan pupuknya, dengan sebuah wadah, saya bersama yang lainnya berkunjung ke kebun, menebarkan pupuk. Sebelum masuk ke kebun kami sempat diingatkan untuk mengganti alas kaki, berhubungan saya pernah digigit semut karena hanya menggunakan sendal di kebun, kini untungnya, karena sudah belajar dari kesalahan sebelumnya, saya mengenakan sepatu. Selesai sesi itu kami mulai menanam Kapulaga bersama Pak Dayat, lokasi area penanamannya berada di area PPM, tepatnya di bawah area PPM, tetapi lokasinya tidak begitu jauh, hanya memakan beberapa meter saja. Di tempat itu kami diajarkan dan mencoba untuk mencangkul dan menggunakan garpu tanah, alat yang diberikan kami gunakan, awalnya terjadi sebuah kesalahan, dari penggunaan alatnya yang salah, ditambah arah pemakaiannya yang salah.
Proses tersebut berakhir dengan 2 sesi “trial dan error”, sampai di “plot” tanah ke-3 hasilnya cukup baik dibandingkan dengan kedua lainnya, lebih rapih dan enak dilihat. Singkatnya “proses trial dan error” dilakukan tetapi saya masih merasa salah hanya bisa melihat pak Dayat mengkoreksi kesalahan kami, dikarenakan tidak memperhatikan tahap prosesnya. Kegiatan di Gambung tidak berakhir disitu saja, diikuti dengan pergi ke lokasi peternakan sapi, lokasinya cukup jauh, awalnya perjalanan dapat dilakukan dengan santai, tenaga yang saya miliki ada cukup banyak, demikian jarak yang jauh itu bukanlah apa-apa di awalnya. Selama perjalanan sering ada asumsi dari kami semua, lokasi peternakan sapinya tidak begitu kamu ketahui, lokasinya sendiri cukup jauh, ditambah rutenya sangat jauh, tanpa mengetahui rute yang benar. Seketika sampai di lokasi, mentor kami pak Anwar sudah menunggu di pertigaan jalan, saat ditanyakan, kedua jalan yang kami asumsikan sudah benar, hanya perbedaannya kali ini pak Anwar menunggu dari arah jalan ke-1. Di area peternakan, kami semua mencoba melihat cara memandikan sapi, kemudian kami semua diberikan kesempatan untuk mencoba memandikan sapinya, kegiatan kali ini cukup mengkagetkan, ditambah areanya kotor, tetapi dengan memfokuskan targetnya untuk memandikan sapi, saya tidak memdulikan faktor kotor dan sifat sapinya, sapinya sering jahil, mencoba memakan dan menjilat jaket saya, untungnya dengan kefokusan itu, sapi tersebut sudah dimandikan.
Sesi kegiatan pemandian sapi berakhir, kami semua pergi ke sebuah warung, dimana kami semua mencoba dan membeli susu sapi murni. Diberikan waktu yang cukup lama, kami semua beristirahat, menikmati susu murni dan mengobrol dengan warga setempat, membahas tentang sapi, kopi dan kegiatan kami. Sepulang dari area itu, perjalanannya sangat jauh, merasa lelah di tengah jalan, saya tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan “pacing” jalan yang cepat, hanya bisa berjalan dengan energi sisa, sambil berharap PPM sudah dekat, dengan waktu dan jalan yang sangat menanjak, lokasi PPM berhasil didatangi, kegiatan saya hari itu sudah selesai, kini kami semua hanya melanjutkan kegiatan makan dan istirahat.