Hari Sabtu, hari sesi kegiatan “workshop” sudah bermulai, tetapi tentunya kegiatan tersebut dimulai dengan beberapa kegiatan rutin terlebih dahulu, mengulang bangun pagi, mandi pagi, sarapan dan pergi kegiatan bersama mentor kami, pak Dayat, dan area kegiatan kami berada di PPM, tepatnya kebun teh milik pak Finan. Kegiatannya berlangsung pada jam 8. Pak Dayat tidak muncul, kami mengira bahwa pak Dayat akan berkumpul di depan bangunan jalan masuk PPM, itu adalah pikiran saya dari awal, dikarenakan pada sehari sebelumnya pak Dayat sering menunggu di lokasi tersebut, tetapi karena mengira seperti itu, kenyataannya ekspektasi lalu tidaklah sama seperti hari lalu, tetapi untuk secara keseluruhan kami sempat bingung, demikian mencoba mencari dan menunggu di gerbang, karena tidak ada, saya kembali balik ke lumbung utama PPM, saat itu, beberapa anggota teman saya sudah balik, beberapanya sudah mulai mengikuti kegiatan bersama pak Dayat yang ada di kebun teh.
Sesi kegiatan di kebun teh bermulai, kami semua diberikan sebuah arit, dengan arit ini kami ditugaskan untuk membersihkan pohon teh dari tanaman liar, terutamanya tanaman liar yang ditemukan sekitar akar setiap pohon teh yang ada. Sebelum itu saya melihat beberapa barisan pohon teh, mengingat harus menuntaskan dan melakukan kegiatan “live in”, saya memaksakan diri untuk mencoba memaksimalkan jumlah pohon the yang dibersihkan. Awalnya saya mengambil satu baris pohon teh, barisan itu berposisi tepat di samping area teman saya lainnya, demikian memiliki resiko melukai satu sama lain, karena arah arit yang digunakan selalu berposisi ke kanan, mengetahui ini, saya mencoba memperlambat “pacing” pemotongan tanaman liar, dengan mencoba lebih berhati-hati dan fokus untuk membersihkan jalan serta area pohon teh di barisan tersebut. Proses pembersihan kebun teh dilakukan secara berulang, ritmenya cukup sama, dari awalnya energetik, kemudian lelah, sudahnya saya energetik lagi, dari kegiatan ini, bagian badan yang paling pegal adalah tangan kanan, karena arit yang digunakan selalu berposisi di tangan kanan dan memerlukan ayungan yang cukup keras.
Kegiatan kebun kali ini melibatkan energi yang cukup banyak, demikian saya harus mencoba mengontrol energi yang dikeluarkan. Mencoba mengontrol nafas, proses dilakukan dengan cepat, kemudian ada istirahat, kemudian di ulang berkali-kali sampai barisan tersebut bersih dari tanaman liar. Saat jalannya kegiatan ini, saya sempat menyesal dengan barang bawaan saya, karena tidak membawa sebuah sarung tangan, demikian tangan saya sempat berkali-kali luka karena tebasan arit dan tanaman liar yang berduri, andaikan saya membawa sarung tangan tersebut, kenyamanan selama kerja akan bertambah, bisa juga secara motivasi bertambah. Secara perlahan dalam proses ini kaki dan tangan mulai lelah, tetapi saya lanjutkan sampai jam 10:30 pagi, tuntasnya kegiatan itu, tangan kanan terasa pegal, tetapi saat jalan, pikiran saya terasa lega karena ketuntasan kebersihan kebun teh dari tanaman liar, totalnya 7 setengah barisan pohon teh, sedangkan pak Dayat sendiri menghabiskan 2 barisan setiap harinya. Pertama kalinya hari ini, proses kerja kami semua sudah termaksimalkan, ini semua dikarenakan usaha lebih dan insiatif yang ada, dibandingan pada hari sebelumnya di kebun kopi.
Kegiatan kami tidak berakhir di kegiatan pembersihan kebun teh, ada satu kegiatan yang terlewatkan, kegiatan “workshop kertas”, kegiatan ini adalah titik utama “live in”. Pada hari sebelumnya, kami sempat mendapatkan kabar bahwa peserta yang ikut acara ini hanya ada satu orang, yaitu yang kami kenal, yaitu Lala. Mengenal peserta kami, ia sempat memberitahu bahwa ia sempat bilang tidak punya teman, ditambah juga dari pihak kerjasama yang dikontak pertama kali sempat hilang kontak, dari awalnya beliau terlihat cukup antusias dengan hal tersebut, tetapi kenyataannya berbeda dengan kegiatan aslinya di PPM. Kembali ke kegiatan utama, setelah makan siang peserta “workshop” mulai hadir, peserta yang hadir jumlahnya sangat banyak, mencapai 13 orang, dari teman-teman Lala dan teman-teman dari anak pak Dayat, jumlahnya sangat banyak tetapi kami semua menjadi cukup malu, kecuali beberapa anggota kelas 11 lainnya, kedatangan peserta sempat tidak disambut, entah kenapa saat itu saya juga bingung atau terjebak lupa dengan tugas tersebut, tetapi terfokus membawa persiapan logistik untuk acara “workshop”. Kesalahan tersebut mulai berkembang dan merambat dalam kelompok kami, untungnya tidak secara materi “workshop”, area kegiatan “workshop” mulai berpindah, dari area utama PPM, kemudian ke teras lumbung utama PPM, untungnya saat itu kelompok peserta utama kembali pulang karena jadwal kegiatan yang berbeda, awal diminta untuk hadir pada jam 2, tetapi kini hadir pada jam 11 pagi.
Acara sudah mau dimulai, rombongan peserta ke-2 mulai hadir, semua anggotanya perempuan, ditambah Lala, salah satu yang sudah membantu kami mendapatkan peserta “workshop” yang banyak, sebelum kegiatan dimulai, kami melakukan sesi perkenalan, kemudian berjalan dari mengikuti jadwal kegiatan “workshop” seumumnya, dalam proses “workshop”, saya sempat mengetahui sebuah kesalahan, yaitu karena ketidakpekaan dan ilmu pengetahuan dari saya, maka sempat ada momen dimana saya tidak tahu dengan budaya setempat yaitu terkait budaya agama Islam terkait laki dan perempuan, yaitu perempuan dan laki tidak boleh berposisi terlalu dekat, tetapi karena itu saya tidak paham dengan situasinya, mengira mereka malu saja demikian membuat kegiatan demonstrasi ter”delay”, tetapi setelah diingatkan, saya mencoba membiarkan pesertanya melakukan proses tersebut. Untuk sisanya kegiatan “workshop” terus berlangung, dengan beberapa hambatan, seperti peserta yang cepat-cepat ingin pulang dan tidak nyaman, ditambah karena adanya beberapa persiapan yang tidak ada saat kegiatan “workshop”, seperti makanan dan peralatan teknis kegiatan.
Pada akhir sesi kegiatan “workshop”, secara keseluruhannya, dari keseluruhan kegiatan semua poin sudah tercapai, tetapi ada satu yang terasa mengganjal, yaitu kerjasama dan komunikasi kami dengan peserta, kesalahan tersebut diakibatkan keegoisan masing-masing anggota kelas, keegosian ini terseret dan terbawa selama jalannya kegiatan itu, sehingga membuat salah satu anggota kelas kami terbebani. TIdak hanya itu juga yang sangat mengejutkan adalah kurangnya komunikasi kami dengan peserta yang ikut, ditambah kurang “opennya” atau sambutan dari kami semua, demikian membuat mereka kurang nyaman, kecuali 1 peserta saja. Intinya untuk kegiatan hari ini, hampir kami semua masih tidak bisa mengontrol kegoisan masing-masing secara tidak tersadari, ini saya rasakan saat sesi evaluasi final pun.