AES060 Babarengan Sajojo '24
Sanya
Wednesday December 11 2024, 9:15 AM
AES060 Babarengan Sajojo '24

Kemarin adalah hari yang indah, walau diawali dengan hujan gerimis dan awan mendung namun lambat laun matahari mulai menampakkan dirinya seiring bergantinya menit. Perjalanan menuju kota bandung ramai lancar dan bersahabat. Kemarin adalah acara yang ditunggu-tunggu Sei. Acara babarengan bersama jenjang SD kecil dan para orang tuanya. Acara penutupan semester 1 sebelum libur dan berpisah dengan teman-temannya, berjeda kurang lebih 1 bulan.

Acara dibuka oleh penampilan kelasnya Sei, dengan percaya diri dan antusias mereka menyanyi hiduplah hari ini selama 5 menit. Menyanyi diiringi gitar dan tamborin membuat suasana semakin hangat, menyanyi sepenuh hati ditambah gerakan sederhana. Tampak teratur dan tenang. Rasa-rasanya pertunjukan pertama mereka saat kelas 1 belum serapi ini, kelihatan sekali bedanya. Tubuh-tubuh kecil dan wajah imut mereka semakin memudar, disaat bersamaan waktu seperti cepat berlalu tetapi terasa panjang sekali.

Belum lagi disaat terakhir, mereka mengajak kami semua para orang tua untuk menari sajojo bersama, dengan gerakan ala kadarnya kami semua menari mengikuti irama. Bukan soal unjuk kemampuan, lebih soal kebersamaan anak dan orang tua. Cuaca dingin berubah menjadi sebuah kehangatan.

Setelah itu kamipun berfoto bersama dan berdoa. Anak-anak begitu jujur saat berdoa, mereka mengharapkan makanan yang enak untuk jamuan nanti. Seketika perut mulai lapar tidak sabar mencicipi makanan enak yang sudah kami persiapkan, nasi liwet. Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk babarengan kali ini aku sebagai korlas yang sedikit menyalahgunakan wewenang hahaha, mengusulkan untuk membuat nasi liwet sebagai jamuan. Beruntung ada salah satu orang tua murid yang ringan tangan dan masakannya sudah teruji. Kami berdua membagi tugas, Bu Stella yang memasak lauk dan aku yang memasak nasi liwetnya karena beliau belum pernah memasak nasi liwet sebelumnya. Pembagian tugas yang adil ini diterima para orang tua. Syukurlah hahaha

Kemudian seluruh kawan dan para orang tua sajojo mengantre mengambil makanan di Longpus. Walau semua lapar, anak-anak mengantre dengan sabar, tidak ada yang menyerobot ataupun berdesakan. Ini yang patut kuacungi jempol. Budaya mengantre. Sebelumnya pun mereka sudah mencuci tangan. Wah keren! Makanan terasa lebih nikmat melihat sikap baik mereka. Entah lapar atau masakannya enak mereka berulang kali menambah. Anak yang sedang bertumbuh ini luar biasa selera makannya tidak ketinggalan para orang tua yang tidak bertumbuh ikut mengantre mengisi piringnya yang tiba-tiba terasa kosong itu. Hari itu kami tidak takut bertumbuh kesamping semua makan dengan lahap sampai lupa, setelah ini kami akan main bebentengan dengan para penduduk asli taman rumput yang matanya sudah berbinar menunggu lawannya untuk dikalahkan.

Bermain bebentengan setelah makan besar seperti cobaan daripada kesenangan untuk kami para orang tua. Berusaha tetap sadar dan bergerak setelah makan. Waduh siap-siap saja kami menerima kekalahan. Kesadaran anggota gerak tubuh kami melambat dan kurang bisa diajak bekerja sama. Alhasil anak-anak menang mudah. Senang melihat kepayahan kami, anak-anak mengajak bermain untuk kedua kalinya. Sebuah strategi untuk mempercepat durasi permainan kami lakukan, salah satu dari kami menepuk benteng dari belakang. Seperti yang diduga anak-anak protes dan mengelilingi kami, meminta untuk mengulang permainan, fair and square. Namun waktunya habis, kami diselamatkan oleh peluit panjang.

Wajah-wajah yang belum menerima kekalahan akhirnya melunak. Ajakan dari kakak untuk duduk melingkar dan berbagi pengalaman selama babarengan mereka tumpahkan dengan kesenangan dan sedikit kekesalan hahaha. Setelahnya kami melihat gelar karya anak-anak. Bagai seniman pro Sei memperlihatkan karya dan menjelaskannya padaku dengan percaya diri. Karya kerja kerasnya selama semester 1 ini. Tak lupa dia memintaku berfoto dengan karya-karyanya. Pertunjukan karya rupanya mengembalikan moodnya setelah permainan curang tadi hahaha.

Dipenghujung acara semua tampak senang, foto bersama dengan senyuman semua keluarga sajojo yang saat ini hatinya hangat. Tak lupa sebelum pulang orang tua sibuk membungkus makanan yang masih tersedia untuk dibawa pulang dinikmati di rumah. Ah hari yang indah untuk dikenang.