Jangan-jangan akulah si perundung itu?
Jika keberagaman dianggap nilai lebih, mengapa saat saling berkelompok membentuk polaritas dapat menjadi kurang bernilai?
Siapapun pasti pernah merasa tidak nyaman dengan perkataan atau perbuatan seseorang lainnya, baik itu disengaja maupun tidak. Siapapun pasti pernah merasakan perasaan tidak nyaman saat seseorang melewati batas. Tidak berwujud, batasan moral setiap orang memang berbeda. Saat kesadaran tertinggal di belakang radar moral kita meredup, melupakan batasan sejauh mana kata dan perbuatan kita dapat menyentuh orang lain.
Lagi-lagi perundungan terjadi, banyak dibahas mengenai perundungan interpersonal. Menjadikan orang lain di luar diri sebagai objek perundungan. Luka diri yang diproyeksikan keluar, yang dianggap lemahlah yang menjadi objek pelampiasan kuasanya.
Bagaimana dengan intrapersonal?
Aku sadar, ada beberapa aku yang lain hidup berdampingan dalam diriku saat ini. Aku yang bersemangat, aku yang senang belajar, aku yang ingin mencari tahu lebih jauh, aku yang bijak, aku yang ingin punya teman, aku yang murung, aku yang lain. Aku yang merasa lebih besar dari aku yang lain.
Sering kali kita merendahkan diri kita sendiri agar tidak tampak menonjol dibandingkan dengan orang sekitar kita. Merendah karena rendah dirikah? Menurutku lebih mengarah kepada rasa tidak nyaman dengan pencapaian. Merasa apa yang telah diraih belum seberapa, belum ada apa-apanya, belum seistimewa itu. Meng-amin-i pandangan dan cerita orang lain terhadap diri, menjadikan komentar orang lain sebagai bagian dari citra diri.
Atau mungkin belum berani melangkah karena merasa belum cukup matang untuk bertindak. Meragukan kemampuan diri sendiri, padahal tidak ada yang pasti di masa depan, semua masih samar dan abstrak untuk dijelajahi. Self sabotage, menihilkan kepercayaan diri, selalu diselimuti akan keraguan, ketakutan dan kecemasan.
Bisa jadi karena kelekatan yang terlalu terikat dengan masa lalu, kejadian yang sudah berlalu masih dianggap melekat dengan citra diri hari ini karena perasaan tidak nyaman tersebut belum terselesaikan. Kejamnya perasaan tidak punya kalender waktu, tidak bisa membedakan peristiwa lampaukah atau saat inikah yang sedang mengambil alih. Disinilah lagi-lagi peran kesadaran memegang kendali. Perlu diteruskan kah kelekatan ini atau coba bersama diterima kah perasaan kala itu sehingga kita menjadi lebih ringan untuk berjalan saat ini.
Melepaskan kelekatan tentu bukan hal yang mudah tapi tidak sulit juga jika bergandengan dengan kesadaran hari ini untuk menerima bahwa hidup hari ini begitu indah dan bermakna, saat berhasil menerima, peristiwa masa lalu yang mengikat dan terasa sakit menjadi momen penerimaan utuh yang menenangkan. Ah, itu hanya peristiwa masa lalu, sekarang aku hidup hari ini merangkai cerita baru.
Saat ketidaknyamanan mengambil alih diri dan terasa mengganggu, cobalah bertanya
Jangan-jangan akulah si perundung itu?