Suatu sore saat aku mengikuti kelas Bivitri Susanti seorang yang ku kagumi jika itu menyangkut hukum. Perempuan. Aktivis. Ahli Tata Negara. Keren sekali.
Aku ditugaskan menuliskan policy brief tentang MBG, disana ada pertanyaan mengusik dari teman kelompokku, "Buat apa sih toh ga akan diterima". Jika terblow up media juga taruhannya nyawa. Ah ya, Ini kejauhan memang, mengingat kualitas tulisanku dan siapa aku.
Tapi, intinya untuk policy brief diterima saja susah sekali. Gimana mau berubah? Namun seperti kata Mba Bibip (Bivitri), dalam dunia kebijakan, policy brief bukan tentang "diterima hari ini", melainkan tentang membangun literatur tandingan. Suatu saat, ketika sistem berubah, tulisanku bisa menjadi fondasi. Siapa tahu.
Menjadi benar itu berat. Mba Bibip (Bivitri) bilang perlindungannya mesti berlapis jika kita perempuan. Mulai dari perlindungan oleh komunitas hingga kemampuan pertahanan diri. Lebih enak jadi orang masa bodoh atau bahkan bodoh betulan.
Aku ikut Bandung Bergerak, disana aku ditugaskan membuat project yang tidak boleh berurusan dengan pemerintah padahal akar permasalahannya itu pemerintah. Pusing kan?
Aku dan kawanku riset tentang kampung Lio Genteng dan Astana Anyar dibawah mentor dan juga sejarawan. Rasanya? Sulit sekali. Kenapa sih semuanya sulit? Tapi aku tahu menuliskan sejarah kampung yang terpinggirkan adalah bentuk perlawanan paling dasar terhadap penghapusan ruang oleh kekuasaan.
Hingga aku kembali ke hal yang aku suka. Lumut. Tumbuhan paling primitif yang bisa menghancurkan batu. Lumut itu tumbuhan paling sederhana dan kecil tapi luar biasa tangguh. Jika ia kering selama setahun penuh, cukup terkena air lima menit ia bisa kembali hidup. Keren kan?
Seperti kelasku dengan Mba Bibip dan Kawan Bandung Bergerak tidak ada satupun yang targetnya itu memperbaiki sistem dalam semalam. Semua yang aku lakukan disana sederhana. Menulis dan mengabadikan. Seperti lumut, dibanding frustasi dan pesimis, kenapa tidak melakukan hal kecil saja? Toh di masa depan kita tak akan pernah tahu hal kecil itu menjadi apa.
Semangat perang Diponegoro butuh 100 tahun lebih agar Indonesia betulan merdeka. Sekarang aku yakin, tidak ada kebaikan dan perjuangan yang sia-sia. Sama seperti lumut yang kelak akan menghancurkan batu, semua hanya persoalan waktu.
Menarik Sonya catatannya. Saya sepakat... Tidak ada yang sia-sia. Alam semesta adalah Enerji semata. Pikiran kita saja berdampak apalagi tulisan yang kita tinggalkan 🙏🏼😊