Seringkali kita spontan membicarakan tentang hal yang sedang kita alami. Misalnya, “naha nyak saya teh ..?” atau “naha sih kudu....” Kalimat ini kerap ditemukan dalam lingkung obrolan dengan teman-teman dekat. Begitu banyak cerita mulai dari kegelisahan hingga keresahan yang dibagikan. Pasti akan selalu ada perbedaan pendapat dalam menanggapinya. Ada yang menganggap hal yang biasa, ikut prihatin, bahkan menganggap sebagai hal yang menyebalkan. Bahkan terkadang pendengar sampai terbawa suasana dengan si pencerita. Hingga membuat pemikiran yang sama terkait memaknai hidup dari cerita teman tersebut.
Tak dipungkiri hal tersebut masih kerap menjadi momok yang selalu ada dalam kebiasaan kita. Dalam lingkar tongkrongan maupun lingkup aktivitas kita, kebiasaan berbagi cerita dan keresahan menjadi hal yang bisa membuat kita release. Di sisi lain, kebiasaan tersebut bisa dilihat sebagai bentuk cara dalam menyamakan persepsi dan pendapat. Namun tersebut kembali lagi bagaimana kita menyingkapinya sesuai dengan kemampuan kita mengolah hati dan pikiran.
Hingga saat ini, saya pun merasakan kegelisahan, keresahan, juga keinginan yang besar untuk bercerita terkait pengalaman yang dialami. Namun disadari yang menjadi perhatian adalah konteks dan kepentingan yang ingin disampaikan. Mungkin kata yang tepat bagi saya menggambarkannya yaitu Netral, bagi pencerita maupun pendengar. Sehingga cerita yang diungkapkan menjadi suatu kisah yang menjadi pengalaman hidup bersama. Dengan memaknai sebagai media berbagi untuk pembelajaran bersama, diharapkan kegiatan nongkrong menjadi hal yang positif dan baik dilakukan.