Hari minggu, hari H Pasar Papringan, sungguh tidak sabar! Aku memulai hari itu dengan minum susu, dan langsung bergegas ke area pasar.
Tenryata sebelum jam 6, sudah ada beberapa pengunjung yang mengantri di bagian teller. Karena saat itu kekurangan orang, aku pun diminta Bu Ella untuk menjadi teller.
Bagianku saat itu adalah teller penukaran uang pecahan 20.000 menjadi 8 keping pring. Ternyata cukup hectic, karena banyak sekali pengunjung yang datang, dan kebanyakan dari mereka tidak membaca sign di depan teller, sehingga mereka bisa salah masuk antrian.
Teller itu tutup kurang lebih jam 7 saking ramainya. Jadi para pengunjung dialihkan untuk pergi ke teller 2. Aku pergi dan melihat-lihat para penjual.
Padat sekali, ketika berjalan kita pasti akan berdesakan dengan banyak orang. Tapi hari itu aku merasa sangat senang karena bisa bertemu dengan banyak orang! Rasanya seperti menambah energi, seperti jadi asyik hidup ini.
Oke balik lagi ke cerita, setelah jalan-jalan, akhirnya aku bertemu dengan Pak Muh. Beliau ada penjual mainan paling lengkap di pasar. Aku diam di tempatnya mungkin satu jam lamanya. Karena Pak Muh orangnya asik sekali, ramah, lucu, pokoknya cocok deh samaku.
Aku menawari orang-orang jualan punya Pak Muh. Jujur aku lupa nama pastinya, tapi ada kiciran, kretek kretek, pistolan, pistol kertas, mobil bak, pesawat, dan sutil.
Orang-orang paling suka beli yang kiciran karena bentuknya yang unik, serta harganya yang sangat murah. Hanya 2 pring atau 5.000 rupiah, murah sekali!
Setelah berjualan cukup lama, atau jadi sales kalau kata Pak Muh, aku jalan-jalan lagi. Di sana aku bertemu Dea dan Seline yang sedang mengambil pring untuk dikembalikan ke teller. Karena sudah banyak orang yang mengantri tidak sabar ingin membelanjakan pring mereka di pasar.
Aku bertemu dengan Farzan di tempat sate Bu Imah. Dia membantu memanaskan sate (apa ya istilahnya) di atas arang. Aku juga membantu memotong lontong serta menerima pring.
Akhirnya aku mencoba sate tempe gembus yang telah kutusukkan beberapa hari yang lalu. Rasanya cukup unik ketika sudah dipanaskan, rasa rempahnya jadi lebih terasa namun tetap empuk. Aku juga mencoba sate ayam kampungnya - ENAK SEKALI! Enaknya itu sampai tidak bisa berkata-kata saling enaknya.
Meskipun Bu Imah tidak mau dibayar, aku tetap memasukkan pring ke kotaknya. Oh iya, sate ini harganya hanya 5 pring atau 12.500 untuk lontong dan 4 sate bisa pilih.
Kalau mau beli satuan juga bisa, 1 pring 1 sate. Murah sekali untuk ukuran ayam kampung! Oh iya, sampai lupa juga. Sebelum ke tenant Bu Imah, aku sempat membeli es dawet cincau, harganya 5 pring. Enak sekali itu juga, rasanya manis gurih, ditambah santan dan es, lekker!
Dari situ aku membeli beberapa jajanan pasar lagi, seperti sate kolang kaling warna pink, bandos, dan keripik bayam. Aku balik ke tenant Pak Muh dan lanjut berjualan. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 12. Sedikit beberes, dan kami pulang ke rumah.
Ternyata, masih belum selesai tugas kami hari itu. 10 menit, ganti baju dan mengambil nafas, kami langsung ke rumah Bu Ella untuk menghitung uang.
Saat datang, uang sudah bertumpuk di atas karpet. Aku tidak pernah melihat uang tunai sebanyak itu seumur hidup. Mulai minghitung dari yang 100.000 hingga yang recehan koin. Jumlah akhirnya sangat besar, belum lagi yang di QRIS.
Akhirnya kami istirahat dan pulang ke rumah, makan siang dulu tentunya. Makan tongkol dari pasar juga, cukup pedas rasanya.
Pasar hari itu seru sekali, mungkin bagiku itu seperti momen untuk recharge energi dengan bertemu dan mengobrol dengan orang banyak. Melihat begitu banyak keajaiban dari para warga Ngadiprono. Seru sekali! Jadi tidak sabar untuk gelaran pasar selanjutnya!