AES 39 Sunrise
vania
Wednesday May 27 2026, 4:24 PM
AES 39 Sunrise

Pagi hari kami sudah bangun, siap-siap untuk berangkat. Mas Yudhi sampai dan perjalanan hari itu dimulai! 

Kurang lebih satu jam lamanya kami berkendara, berhenti sejenak untuk sholat subuh. Setelah beberapa tikungan, akhirnya kami sampai ke sebuah tanah kosong di sekitar sawah.

Karena masih subuh, aku tidak dapat melihat begitu jelas. Kami pun berjalan mengikuti Mas Yudhi. Jalanan kanan-kiri tidak terlihat saking gelapnya, meskipun sudah menyalakan senter dari handphone.

Di tengah perjalanan, ada banyak kelelawar yang terbang, serta serangga putih kecil. Jalannya tidak lama, kurang lebih 20 menit-an.

Langit sudah menyemburkan warna oranye yang memanjakan mata, di tengah gunung-gunung yang tinggi menjulang. Pemandangan seperti ini tidak bisa didapatkan di Bandung.

Setelah jalan, kami santai di Benteng Sata - sebuah tanah desa yang dijadikan tempat untuk melihat pemandangan. Dari atas benteng kita dapat melihat banyak gunung. Mulai dari Merapi sampai Sindoro.

Aku sangat menikmati pemandangan ini, udara dingin dan matahari yang mulai naik - 100/10.

Kami juga sempat mengobrol dengan orang-orang yang menjaga benteng. Membahas sedikit mengenai kurikulum KPB. Selesai berpamitan, kami jalan pulang.

Di tengah jalan ada sepasang petani yang sedang memanen kacang merah. Kacang merah ternyata tidak tumbuh di bawah tanah, melainkan di atas. Bentuknya seperti edamame, namun warnanya merah.

Ternyata, karena di bawah Gunung Prau adalah lembah, kebanyakan lahan ditanam secara vertikal ke atas. Jadi ketika sedang bertani, kita bertani dengan berdiri, tidak jongkok. Tapi menurutku itu cukup susah, karena kita harus menjaga keseimbangan juga.

Kami balik ke mobil, dan mampir ke tempat ayam goreng untuk sarapan. Selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke Liangan.

Di sana kami bertemu dengan Mas Budi yang menjelaskan proses ditemukan liangan ini hingga penemuan-penemuan baru.

Jadi awalnya tempat ini hanyalah sawah, kemudian karena digali untuk diambil pasirnya, ditemukan banyak peninggalan kuno yang katanya sejak abad ke 11 masehi.

Ada beras yang sudah menjadi arang, bambu, kayu, tempat berdoa, rumah, serta linggayoni. Linggayoni juga adalah salah satu tempat untuk berdoa bagi umat Hindu.

Kami juga mampir ke kantor mereka, di dalamnya ada beberapa peninggalan seperti guci, keramik, dan fosil hewan.

Kami pulang, beristirahat, dan makan bakso kuah malamnya. Ini hari pertama kami tidak masak seharian.