AES013 Kesan
wulan bubuy
Tuesday September 21 2021, 9:23 PM
AES013 Kesan

Siapa yang gak kenal jargon iklan di tahun 90an "Kesan pertama begitu…." Kurasa ini juga berlaku disetiap kesempatan sebagai kesan pertama, seperti bertahun lalu saat aku mulai mengajar, seorang kawan berpesan "Jangan grogi, bisa kebaca sama mahasiswa lo". Meski berbekal pengalaman itu tetap saja begitu terjadi perubahan dari luring ke daring, semua seolah luntur. Kesan kaku, grogi dan panik mewarnai hari-hari pertamaku, seru ya? Seru kalau diceritakannya sekarang. 

Di tahun ajaran 2021 ini, ada sistem yang sedikit berbeda sejak dikukuhkan sebagai kampus merdeka. Tentu saja tidak menjadi lebih sederhana, tetapi kuakui persiapannya sudah jauh lebih matang. Dan sebagai karyawan pun tidak luput menjadi sorotan untuk terus meng-upgrade diri. Gak perlu diragukan lagi, performa yang nilainya diberikan oleh peserta didik sudah pasti menjadi pertimbangan terpenting. Jadi, disetiap rapat pleno selalu disebutkan siapa-siapa saja yang dinobatkan sebagai dosen terfavorit. Kebayang ya? Bisa stress banget ini kalau perolehan edomnya dibawah 80%. Apakabar  aku yang berstatus pengajar honorer ketika semua kembali pada kesan mahasiswa terhadap caraku? Pikiran akan tersingkir dengan berjalannya waktu tuh nyata adanya. Hihi, tapi...

Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan sendiri kedamaian dalam setiap sesi kelas. Bukan hanya mahasiswaku yang belajar, aku pun sama sedang berproses dan terus belajar memahami dinamika kelas yang pesertanya sendiri berjarak, aku yang hadirnya sebatas layar, dan waktu yang terus bergulir. Satu-satunya jalan adalah aku mempercayakan semua prosesnya kepada masing-masing individu. Seiring dengan munculnya pemahaman dalam diri tentang prasangka baik akan membuahkan hasil yang baik pula. Aku berusaha, setelahnya aku berserah, berulang kali seperti itu. Untuk apa? Biar tenang.

Memangnya apa yang membuat gak tenang?

Begini, di mata kuliah yang aku ampu banyak hal yang abstrak, seringkali aku mengatakan pada mereka kalau pemahaman itu bisa datangnya nanti setelah lulus, saat bekerja, tapi ada juga yang lebih cepat saat mendekati tugas akhir, jadi selama berproses di tingkat dasar sifatnya pengendapan. Alasan inilah yang membuatku selalu ingin membangun kesan, bukan hanya terhadap aku yang mendampingi tapi juga pada apa yang sedang mereka coba kuasai. Kala itu sinyal yang datang memberiku banyak ruang untuk bereksplorasi. Yakan? Memang bukan cuma mereka yang belajar, setiap harinya saat aku memikirkan bagaimana cara menyampaikan agar lebih mudah dipahami, selalu ada jalannya. Proses memang mahal, disanalah aku menemukan guru-guru terbaik. Tanpa kusadari ada sedikit nada sombong disana.

Mari kita mundur lebih jauh ke 4-5 tahun lalu, di kampusku mulai mensimulasikan sistem hybrid yang menurutku waktu itu sangatlah tidak realistis. Qudarallah, siapa menyangka pandemic datang dan sekejap saja semua berubah, banyak hal yang akhirnya terpaksa kita lakukan dari jarak jauh. Hikmahnya, perencanaan yang dilakukan kampusku jadi punya akses diperkenalkan lebih cepat, semua harus siap baik pengajarnya pun peserta didiknya. Jungkir balik, pasti. Termasuk aku. Singat cerita, aku menurunkan ego dan membiarkan waktu menuntunku. Aku memutuskan untuk diam dan mengamati, jika ada yang tidak sesuai kutunggu sampai segalanya kembali tenang. Hasilnya? Seperti autopilot dong, meski masih terheran dalam kebingungan karena rasanya semua bergerak sendiri dan rapih. Sangat berbeda dengan kondisi disaat aku mati-matian mempertahankan ego, begitu kulepaskan kesan yang selama ini kuharapkan malah datang tanpa diminta. 

Lama aku termenung dan baru kumengerti apa yang dahulu pernah diajarkan ibuku, ikhlas itu datang tanpa perlu tanya kenapa? Ternyata ya, sesederhana itu. Aku yang berusaha sekuat tenaga membangun kesan, ujungnya malah aku yang terkesan. MasyaaAllah. Fa bi'ayyi ālā'i rabbika tatamārā