AES054 - Anak Cicak Baru!
Ara Djati
Tuesday October 8 2024, 7:47 PM
AES054 - Anak Cicak Baru!

Kemarin malam, beberapa dari kami menginap di rumah Dea untuk mempermudah berangkat ke Bosscha esoknya. Perjalanannya panjang dan memusingkan dan aku jadi lebih mengapresiasi orang-orang yang tiap pagi berangkat dari Lembang untuk sekolah ke Smipa. Tapi juga aku selalu heran, kenapa orang mau punya rumah jauh-jauh? Mungkin karena pemandangannya. Dan perjalanan itu memang amat terbayar karena pemandangannya. Di mana-mana terlihat sawah tertumpuk rapi dalam bentuk gunung, dan hamparan hijau, rumah-rumah dongeng, langit yang cerah bebas asap, mememar menjadi kuning-kemerahan saat matahari mulai membenamkan diri.

 Tadinya, kami ingin makan malam dan mengobrol di teras luar, agar bisa menikmati bintang. Tapi di luar dingin dan amat berdebu. Di dalam, ada kasur yang empuk dan hangat. Jadi, malam itu kami habiskan bergulung-gulung dalam lipatan selimut, asal-asalan memetik gitar, mengobrol dan tertawa entah tentang apa saja. Semuanya berlangsung dengan damai dan tenang, sampai tiba-tiba, Dea meloncat duduk dan berteriak, menunjuk pada sebuah gumpalan kecil di kasur.

 Ada seekor cicak, kecil sekali, dengan kepingan telur masih menempel di ekornya, terlapisi cairan oranye-kemerahan. Ketika aku mengangkatnya dengan kertas, dia malah melompat ke atas gitar lalu ke sofa. Akhirnya aku berhasil mengeluarkannya ke teras. Sisa malam itu berlalu dengan tenang, tanpa gangguan cicak. Tapi, esok paginya, kami menemukan ada telur cicak lain di kasur (yang ajaibnya tidak pecah selama kami tidur). Sepertinya memang ada banyak telur cicak di kasur atau selimut, entah dari mana, karena memang tersimpan dan jarang dipakai.

 Sejak ada cicak yang mencuri brokoliku, aku jadi menyukai cicak. Mereka lucu dan baik dan lembut, tapi takut orang. Jadi, salah satu highlight dari kemarin adalah menemukan cicak itu. Aku harap dia tumbuh besar dan kuat dan tidak kedinginan di teras.

You May Also Like