Pagi tadi sewaktu sarapan kami membahas soal bubur diaduk atau gak diaduk. Sungguh pembahasan yang tak ada ujungnya ya? (Haha), kukatakan pada anakku kalau dulu aku gak suka diaduk karena membuat bubur menjadi cair (menurutku), tetapi lalu (lupa sejak kapan) aku mematahkan kebiasaan tersebut dengan mencoba mengaduknya. Kesan pertama yang kunikmati kala itu adalah ketidakjelasan bentuk, semua membaur hingga aku tak lagi bisa membeda mana ayam, cakwe, kerupuk, bawang goreng, kacang. Merasa aneh pun tidak, aku bisa memakan suap demi suap dan sejak itu aku bisa makan bubur diaduk dan tidak diaduk, tergantung sedang ingin yang mana. Ternyata sesederhana itu? Tanyaku yang masih terheran sendiri dengan apa yang kulakukan.
Soal kebiasaan, aku jadi bercerita panjang lebar tadi pagi pada anakku. Sebab musabab kenapa aku punya kebiasaan menyusun buku berdasarkan tema/genre/penulisnya, menyusun baju berdasarkan warna/jenisnya, sampai parkir kendaran yang harus sejajar dengan garis parkirnya. Anakku belum tahu saja kalau susunan feed instagramku juga kuatur landscape dan portrait dalam satu baris (hm, ini sejujurnya merepotkan sih, karena postingnya jadi harus bersamaan). Dan, pada akhirnya aku mulai menggeser 'kegilaan' tersebut, seperti soal aduk dan gak diaduk itu.
Kesimpulanku, masalahnya hanya pada mataku saja. Terbiasa menjemur berdasarkan kelompok celana, baju, dan sebagainya saja sudah cukup repot, apalagi ditambah warna-warna yang sama. Saat aku mengubah susunannya, persis kesan pertama bubur diaduk, mataku hanya butuh penyesuaian setelah itu semuanya gak lagi jadi masalah. Saya tertawa geli sendiri, karena upaya yang dulu kulakukan sebetulnya lebih untuk memanjakan visual, gak ada efek apapun sama sekali. Ya, kecuali soal selera, mungkin pembahasannya dicukupkan saja. Pendek kata, selesai.
Foto pinjam dari sini*