Aku sendiri lupa kapan muncul keberanian dalam dirinya, aku hanya ingat bagaimana sang pelatih kerap mengingatkan untuk selalu bersabar dengan kondisi anak-anak terutama dalam beradaptasi. Dan persis seperti yang dikatakan oleh beliau, akan tiba saatnya dimana anakku memahami setiap teknik dasar yang diajarkan. Ini bukan soal cepat bisa menguasai berapa gaya dalam sekian bulan, tapi tentang bagaimana ia bisa menikmati setiap gerak tubuhnya, menyadari kemana tubuhnya mengayuh bahkan mengetahui ketika ada yang tidak sesuai seperti pengaturan pH atau ketinggian air.
Kali pertama aku mengetahui anakku memahami adanya perbedaan kondisi air adalah saat anakku menikmati fasilitas penginapan yang kami kunjungi di Jogja bulan September tahun lalu. Sekilas dia mengomentari kolam yang tidak senyaman tempat latihannya. Aku yang kala itu kurang memahami, hanya berkomentar 'oh begitu?' Dan baru mengerti saat bercerita pada pelatih bahwa memang ada standar mutu air kolam yang ideal. Pantas saja aku pernah beberapa kali mencuri dengar sang pelatih membicarakan soal pH air ini seusai hujan turun berhari-hari. Katanya, 'Jika terkena hujan terus menerus, air itu jadi cepat rusak, bu. Warnanya jadi keruh.' Ternyata, penyebabnya karena pH yang tidak seimbang dan ini bisa menyebabkan klorin tidak bekerja dengan baik.
Seru juga menyelami per-kolam-an ini, sesuatu yang baru buatku. Selain air, aku juga baru tahu kalau bahan pakaian renang itu ada yang dibuat 100% tahan klorin. Wah, ternyata bukan hanya desain yang membuat nyaman bergerak saja, tapi juga ringan bahkan sampai diterapkan teknologi peregangan 4 arah. Luar biasa.
Kembali pada situasi pagi ini, saat kujemput dia baru saja selesai mandi. Lalu berpamitan pada pelatih dan teman-temannya. Seperti biasa, aku bertanya tentang apa yang dia dapat dari latihan hari ini? Katanya, masih harus latihan menguatkan otot perut.
Ingatanku melayang-layang lagi. Jauh ke waktu yang telah lalu, sang pelatih bercerita tentang rasa puasnya. Bisa jadi, untuk beberapa murid jika ditanya perkembangan latihannya, cenderung bisa dikatakan meningkat. Tapi terkadang baginya, menguasai saja belum cukup membuatnya puas. Ada hal-hal detil yang bagi beliau masih perlu diperhalus, dibentuk, disempurnakan.
Akhirnya aku paham setelah lama berselang, ketika beliau memanggilku saat menunggu disana untuk melihat perubahan gerak sikut yang terangkat dengan lebih mantap. Aha! Itu maksudnya dan aku yang gak mau kehilangan momen segera mengabadikan untuk kubahas bersama anakku. Tak disangka, anakku mengakui kalau gerak itu membuatnya lebih rileks dan terasa nyaman.
Biidznillah, segalanya dimudahkan meski prosesnya tidaklah sebentar. Dan aku menikmati proses itu karena sang pelatih menyerahkan sepenuhnya pada kemampuan anak. Kata beliau, 'Saya itu paling lambat dibanding saudara-saudara saya bu, tapi saya malah yang paling bertahan dibanding mereka. Tenang saja, saya yakin bu, ketika anak nemu kuncinya, dia bisa cepat sekali menguasai semuanya. Sabar ya, bu. Semua anak disini juga sama prosesnya.'
"Inna dzalika 'alallaahi yasiir"