Beberapa waktu lalu saya mengajak R nonton “Babies | First Words” disela sibuknya. Sebetulnya pertanyaan “Apa kata pertamaku?” pernah juga kami bahas bersama jauh sebelum hari ini, bersambut dengan pertanyaan berikutnya tentang bagaimana cara bayi berkomunikasi? Lalu kenapa ada beragam bahasa? Selanjutnya adalah bahasa apa yang pertama kali ada di dunia? Menarik sekali pertanyaan-pertanyaan itu, biasanya kami membahas hal seperti ini selagi di meja makan atau saat mengobrol santai sebelum tidur. Tapi saya bukan mau bahas pertanyaan R, kali ini mau cerita soal kekaguman saya setelah menonton film tersebut.
Rasanya semakin yakin dengan pernyataan CM tentang anak-anak terlahir dengan pribadi yang utuh. Kemampuan lengkap yang mereka miliki terbukti mampu menguraikan kerumitan sebuah bahasa. Saya juga gak akan bahas jauh-jauh tentang otak dan bagaimana neuron bekerja, itu terlalu berat. Saya cuma cerita tentang skill bahasa yang bisa dilatih aja ya.
Nah, dari film tersebut saya baru memahami korelasinya kenapa dulu ipar saya pernah berpesan untuk banyak-banyak mengajak anak bicara serta gak perlu takut berbicara dalam bahasa yang rumit. Karena ternyata mereka sudah diberikan kemampuan untuk menangkap kata-kata kemudian memahaminya bahkan jauh sebelum dapat berbicara.
Menurut saya ini sih keren banget, makhluk sekecil itu bisa memproses banyak hal dalam dua tahun kehidupan pertamanya. Gimana mereka bisa membedakan mana kalimat perintah dan mana kalimat tanya, yang menurut film tersebut mereka belajar membedanya dari pola nada. Saya jadi teringat keponakan saya yang beruntung sekali karena di sekolah berbahasa Belanda, sedangkan di rumah berbahasa Indonesia dan dilingkungan bermain berbahasa Inggris. Pertanyaan bodoh saya kala itu, “Kok bisa ya? Dia gak bingung?” ya, nyatanya memang bisa dan anak-anak jauh lebih mudah mempelajari hal tersebut ketimbang belajar setelah besar atau dewasa.
Kalau diamati dari pola tersebut, anak-anak yang bisa memahami lebih dari satu bahasa karena terbiasa mendengar kalimat secara lengkap, dengan begitu ia akan memahami struktur bahasa yang baik. Apalagi bahasa yang sangat kompleks ini nantinya berguna untuk berkomunikasi, juga bisa berkembang menjadi puisi, syair, fiksi dan banyak lagi. Jadi, sebelum mereka bisa meniru suara, kata-kata ini disimpan terlebih dahulu.
Oh, satu lagi dibagian akhir film disebutkan perihal membacakan cerita, itulah saat kita benar-benar terhubung dengan anak. Hm, meski saya masih menganggap menyusuilah yang memberikan keintiman tetapi mungkin betul juga dengan membacakan cerita akan ada hubungan yang hangat, tercipta melalui tanya, dan tentunya otak yang begitu hebatnya akan terus memproses segala informasi, menemukan kata-kata baru, menyimpan hingga saatnya dibutuhkan.