Di Sunda, katanya Gunung itu berarti Guru nu agung!
Jika kamu mau belajar tentang kehidupan, maka bergurulah pada gunung, pergi ke gunung, dan lihatlah banyak keajaiban dalam kehidupan lain.
Ada satu Gunung istimewa yang aku tahu, Dia satu gunung yang bisa jadi 4 gunung yang berbeda jika dilihat dari 4 arah yang berbeda pula.
Bagaimana tidak, Jika dilihat dari selatan, bentuknya menjulang tinggi menyerupai perahu yang terbalik.
Jika dilihat dari barat dia sama seperti gunung pada umumnya
Begitupun jika dilihat dari arah timur.
Yang ajaibnya lagi, jika dilihat dari utara, dia seolah tidak ada.
Padahal dia berdiri ditempat yang sama, namun dia terlihat jauh berbeda.
Apakah dia punya 4 wajah? Kurasa tidak, mungkin guru yang ini mengajarkan kita sebuah cara pandang yang berbeda meski kita melihat hal yang sama.
Gunung, Guru nu Agung! Yaaa, saya setuju dengan pernyataan ini.
Dalam kesunyian gunung, saya bisa melihat banyak kehidupan, dapat hidup dengan bebas.
Penuh cinta untuk saling menjaga.
Bagaimana tidak, monyet yang terlihat makan buah-buah dengan geragas nyatanya membantu buah-buah itu untuk dapat tumbuh di tempat lain.
Atau pohon-pohon yang berlumut dan terlihat tua tanpa melakukan apapun, dia menyimpan banyak air untuk banyak kehidupan. Bahkan untuk saya dan kamu!
Gunung juga mengajarkan sebuah proses kehidupan yang selalu berputar, seapa adanya, tak pernah memaksakan keinginan terhadap yang lain hanya untuk kepentingan sendiri. Semua terkumpul dalam ruang yang sama, saling berkaitan namun tak pernah mengikat yang satu dengan yang lain atas nama cinta untuk memiliki.
Cinta itu luas dan bebas
Dengan bebas dia terlahir di dalam jiwa
Di dalam jiwamu, di dalam jiwaku, di dalam jiwa kita.
Bersamanya terlahir juga kebaikan-kebaikan, menemani di setiap langkah
burung-burung di udara tahu gunung bukan miliknya sendiri, namun milik kupu-kupu, milik ulat, milik cacing, milik pohon-pohon, milik daun, milik bunga, hingga mereka sama-sama menjaga gunung tanpa berusaha memilikinya.
Cinta itu luas dan bebas! Sama seperti gunung tangkupan perahu yang terlihat berbeda dari 4 arah yang berbeda, dia luas dengan cinta yang bebas digambarkan dari setiap arahnya.
Jadi apakah cerita tangkupan perahu benar karena perahu yang sangkuriang tendang setelah cintanya di tolak? Ntahlah, kurasa gunung punya cerita tentang cinta kasih yang jauh lebih besar, bukan sebatas kemarahan yang dituangkan dalam sebuah cerita dari selatan