AES01 Kisah Lain: Perkenalan
yasminara
Thursday October 5 2023, 11:43 AM

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya saya menulis lagi. Dulu, sekitar 5 tahun lalu, menulis adalah kewajiban dan pekerjaan saya. Ya! Pekerjaan saya adalah jurnalis. Sisi lain dari pekerjaan ini adalah tidak semuanya glamour dan hebat. Tentu saja saya bisa bertemu muka dengan orang-orang terkenal, pejabat, bahkan Presiden sekalipun. Namun, ada pula kisah kasak-kusuk, seperti menunggu terduga koruptor di KPK selama hampir 12 jam. Heboh! Karena saat datang belum pakai rompi oranye, tapi saat keluar sudah pakai. Jadilah kami semua para jurnalis heboh, saling sikut, saling injak, saling teriak. Semua mau mendapat gambar paling bagus, wawancara paling jelas, dan pertanyaan titipan kantor juga terjawab. 

Awalnya, semua jurnalis baru wajib menjalankan tugas sebagai wartawan harian. Meliput berita-berita yang sedang hangat, persoalan politik, ekonomi, hukum, sebut saja semuanya. Korlip atau koordinator liputan selalu siap di ujung telepon di kantor, mendesak para agennya untuk segera mengirmkan naskah atau menaikkan berita. Berhubung saya adalah jurnalis televisi, saya harus mengirimkan naskah dalam format televisi. Hingga ketika naskah sampai di produser, proses editing sangat minim. Sebab deadline yang sangat ketat, kami sangat diburu-buru. Jika saya gambarkan rasanya seperti dikejar-kejar rentenir, begitu lah yang kami -- saya dan teman-teman jurnalis, selalu gambarkan setiap harinya.

Jujur saja, saya kurang tertarik mengolah berita harian. Namun, ada ungkapan kita bisa karena biasa. Jadilah saya, mau tidak mau semakin ahli dan tentunya mengasah kemampuan menulis dan negosiasi. Karena pada dasarnya menjadi jurnalis itu bekalnya hanya kemauan dan kulit tebal. Pengalaman dimarahi dan ditinggalkan narasumber, sudah menjadi 'makanan' yang sering kami santap. Tetap saja, ada satu hal yang menurut saya tidak boleh ditinggalkan saat bekerja, etos kerja yang baik dan tentunya adab.

Jika sebelumnya saya bilang saya kurang tertarik mengolah berita harian, lalu kenapa saya memilih bekerja sebagai jurnalis? Sebetulnya saya memiliki ketertarikan menulis, seperti cerita pendek atau cerita panjang sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Selain itu, saya juga tertarik dengan kegiatan seperti perjalanan dan petualangan. Dan menurut saya, jika ingin mewujudkan mimpi tersebut, saya harus menjadi jurnalis. Untunglah di bulan ke-enam saya bekerja, kantor memindahkan saya ke pos baru. Masih sebagai jurnalis tentu saja, namun sekarang saya dipindahkan ke program dokumenter. Satu hal yang sudah lama saya impikan, setidaknya saya bisa bepergian dan menulis naskah yang -- menurut saya, tidak terlalu monoton. Hal lain yang membuat saya senang adalah, saya bisa bertemu dengan orang-orang biasa, warga yang tentunya jauh dari perihal politik, hukum, atau hal-hal berat lainnya yang biasa saya konsumsi saat bekerja di Ibu kota.

Cukup lama saya bertugas di program tersebut, sekitar 2 tahun, dengan berbagai macam kesulitan, juga kesenangan yang saya rasakan. Begitulah awal mula saya akan memulai rangkaian "Kisah Lain" yang tentunya akan saya tuangkan dalam blog ini. Dan semoga saja, meski dalam kurun waktu 2 tahun ini tidak terlampau banyak tempat-tempat di Indonesia yang saya kunjungi, karena Indonesia sendiri sangat lah luas, tulisan saya bisa menjadi inspirasi dan pengalaman baru bagi teman-teman yang tertarik membacanya.

joefelus
@joefelus   3 years ago
Nah mulai sekarang para pasukan AES punya nara sumber yang bisa menularkan tips-tips menulis yang baik. Benar khan @kak-andy? Selamat untuk esai perdana nya dan salam kenal!
Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Terima kasih Yasmin untuk posting pertamanya di Ririungan. Sudah berbagi juga jejak perjalanan profesi di bidang tulis menulis. Menarik. Ditunggu cerita²nya di Ririungan. 🙏🤗