AES001 Merekam Kemenangan
Yopie
Tuesday November 11 2025, 11:04 AM
AES001 Merekam Kemenangan

Jumat petang itu angin cukup kencang, awan gelap dan hujan mulai turun. Tapi di pendopo rumah belajar Semi Palar terasa hangat menjelang penutupan festival literasi. Penutupan festival literasi kali memutar film “Pakta Ledak” yang merupakan film dokumenter tentang penambangan pasir di merapi dan pembangunan insfrastruktur yang masif di wilayah pesisir utara pulau Jawa.

Kali ini saya akan bercerita bagaimana dibalik layar proses suting film dokumenter “Pakta Ledak”, yang tidak kalah menarik dan menegangkan seperti filmnya. Pertengahan september 2024 lalu saya mendapat pesan text dari Irwan Ahmett, beliau adalah sutradara dari film “Pakta Ledak”. Dalam pesannya beliau mengajak saya dan teman-teman untuk terlibat dalam proses pembuatan film dokumenter mengenai penambangan pasir Merapi di Muntilan, Jawa Tengah. Tim kecil yang terdiri dari 7 orang mulai intens berkoordinasi mengenai ide besar dan aspek teknik di lapangan.

Pada November 2024 tim yang lebih kecil melakukan riset di Muntilan, Pantai utara Semarang dan pantai selatan Parangtritis, untuk melihat bagaimana konektifitas dua jalur penting yang mengapit gunung Merapi. Setalah kurang lebih tiga bulan mengumpulkan bahan riset, kami sepakat untuk memulai proses suting yang lebih detail pada awal maret 2025.

Sejak awal maret kami tinggal di Padepokan Seni Tjipta Boedaja, dusun Tutup Ngisor, Muntilan, Jawa Tengah. Kami terlibat banyak diskusi dengan warga sekitar dan mengamati beberapa pola sosial sehari-hari di desa Sumber. Bagi kami ini merupakan langkah awal yang sangat penting untuk menyampaikan ide besar bagaimana film ini nanti akan berproses. 

Kami mengajak mereka untuk terlibat langsung secara ide, gagasan dan tenaga. Kolaborasi ini yang akan memperkuat sebuah cerita dilihat dari berbagai sudut pandang. Kami bertemu pak Sitras -penari pada film Pakta Ledak- yang merupakan pimpinan padepokan. Bertemu dengan beberapa aktivis, pedagang, anak muda di sanggar, tokoh masyarakat juga tokoh agama. Kami melihat warga lokal yang tinggal di kaki gunung Merapi merupakan aspek yang penting dalam proses pembuatan film. Kami tidak ingin menjadikan warga lokal hanya sebagai objek dalam film, tapi menjadi subyek penting dan terlibat langsung dalam proses sutingnya.

Kami sadar proses pengambilan gambar tidak akan mudah, terlebih ketika mulai masuk ke wilayah sensitif dengan tensi yang tinggi seperti tambang pasir dan depo pasir. Bahkan beberapakali kami mendapatkan ancaman secara verbal dari pekerja tambang ketika mulai memasuki wilayah tambang dengan membawa kamera. Beberapa kali kami mundur, tapi tidak menyerah. Kami mulai berdiskusi lagi dengan warga lokal untuk membuka kemungkinan cara lain masuk dan mengambil gambar di wilayah tambang pasir.

Irwan, sutradara “Pakta Ledak”, mencoba menempatkan beberapa simbol penting dalam setiap adegan, bagi saya, selama proses produksi lebih dari sekedar proses pengambilan gambar, tapi bentuk meditasi dan interaksi baru dengan simbol-simbol yang digunakan. Sebagai contoh, “celeng” sebagai simbol habitat yang tergusur akibat penambangan ilegal, juga kapsul yang dibawa drone menuju kawah merapi untuk sedikit mengobati kerusakan alam akibat penambangan disekitar gunung Merapi. Musik dalam film ini juga digarap oleh teman-teman menthang gendewa, sekelompok musisi muda yang tinggal di kaki gunung Merapi.

Beberapa hari lalu saya mendapatkan berita tentang penutupan tambang pasir ilegal, berikut tautan beritanya. Semoga ini menjadi awal itikad baik dari semua pihak untuk terus menjaga kelestarian alam kita. 

Terima kasih untuk kawan-kawan KPB yang telah memfasilitasi pemutaran film ini, juga mas Imam yang selalu menjadi pelengkap dibalik layar. Apresiasi juga untuk anak-anak SD sampai KPB, Kak Andy, Kakak-kakak dan tentunya orang tua murid yang menyempatkan hadir pada pemutaran film “Pakta Ledak”. 

Film ini hanya sebagai media, pergerakan sesungguhnya adalah bagaimana kita dan juga warga desa Sumber, Muntilan terus bersama-sama untuk tetap menjaga ruang hidup mereka. Banyak cara untuk menyampaikan aspirasi, bagi kami film merupakan salah satu media untuk menyampaikan berbagai aspirasi. Seperti dalam lagu The Upstair “yang terekam tak pernah mati.”

Andy Sutioso
@kak-andy   5 months ago
Terima kasih Yopie catatan dari nobar filem kemarin. Selamat juga untuk tulisan pertamanya di Ririungan. Mudah-mudahan banyak cerita lain yang bisa dibagikan dari berbagai pengalaman Yopie. Nuhuun. 🙏🏼😊
Yopie
@yopie   5 months ago
Sami-sami, Kak, semoga bisa terus saling berbagi pengalaman.
You May Also Like