Niatnya mau nulis, tapi ngantuk banget. Dasarnya memang gampang tidur, ga boleh nyandar ke bantal, pasti jadi pengen merem. Kalau siang hari pun terkadang di bangku sedan tua yang sempit pun bisa jadi power nap begitu rebahan. Tidur itu jadi luxury tersendiri, semacam hadiah buat diri sendiri, meski pernah juga melewati masa-masa tidur seadanya, saat masih kepala 2, kerja sampe merem mata lalu melek mata kerja lagi.
Sewaktu Milo bayi dulu, hal pertama yang kuajarkan padanya adalah cara tidur sendiri atas petunjuk dari buku Baby Whisperer. Buku itu berisi penjelasan seputar mengurus bayi termasuk pentingnya membiasakan bayi tidur sendiri dalam ranjang bayinya dengan cara yang sama di waktu yang sama supaya bayi cepat mengenali kebiasaan tidurnya. Awalnya memang sulit, membuat bayi tertidur hanya dengan menepuk-nepuk pantatnya lembut secara konstan dalam kamar yang redup dengan alunan musik yang lembut saja, tanpa digendong sama sekali. Bayi boleh digendong sebentar hanya sebagai pengantar sebelum dibaringkan di atas kasurnya sendiri.
Meski menangis terus menerus, bayi tetap hanya boleh ditepuk-tepuk sebagai satu tanda yang nantinya dikenali bayi sebagai waktu tidur. Hari pertama Milo menangis hampir satu jam, hari kedua sedikit lebih singkat dan terus memendek sampai seminggu kemudian Milo mulai mengerti waktu tidurnya lewat pengkondisian yang sama terus menerus, persis seperti yang diinfokan di buku itu. Bayi akan belajar mengenali, lakukan saja dengan konsisten dan sabar, lama kelamaan waktu yang dibutuhkan si bayi akan semakin pendek, katanya.
Proses sampai menemukan cara yang paling pas memang cukup panjang, lewat menepuk-nepuk, menggunakan empeng, sampai akhirnya mendapat sarana yang paling ampuh yaitu kain sarung dari Bali. Menyenangkan sekali rasanya ketika akhirnya Milo bisa tidur dengan mudah, tanpa perlu disusui dulu, cukup dengan membuat kamar jadi gelap, menyalakan musik, menaruhnya di ranjang, memberinya kain sarung bali yang lembut itu untuk dipegang-pegang dan diusek-usek, dan menepuk-nepuk pantatnya sebentar.
Menurut buku itu, sang ibu juga harus punya waktu tidur yang cukup dan juga harus punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri, itulah alasan membangun rutinitas bayi.
Jadi sejak Milo berusia 0 bulan, ia dibiasakan tidur pukul 7 malam. Meskipun masih perlu disusui setiap 2 jam, ia disusui dalam kondisi tidur, tanpa menyalakan lampu, tanpa suara-suara apapun, sehingga ia pun tidak terbangun dan waktu tidurnya tak terganggu.
Kebiasaan yang sama itu terus berlangsung dan hanya bergeser waktunya saja. Ketika badannya makin besar dan kuat, waktu tidurnya mundur ke pukul 8 malam, lalu pukul 9 dan sekarang pukul 10 malam.
Untuk waktu tidur ini kalau tidak terpaksa sekali, tidak ada kompromi. Waktu tidur berarti saatnya untuk tidur.
Entahlah apa rutinitas waktu tidur sejak bayi ini yang dominan memberi pengaruh baik terhadap kondisi fisiknya, yang jelas sekarang waktunya untuk tidur.
Selamat tidur ❤