Tanpa sengaja aku memperhatikan gerak tubuh orang di bangku depanku saat tadi menunggu misa dimulai.
Cara dan ritme bernapasnya terlihat jelas dari tubuhnya yang bergerak. Bahunya naik turun dengan ritme yang mengatakan bahwa ia bernapas pendek dan cepat. Tubuhnya sesekali menarik napas lebih panjang dan lambat laun napasnya menjadi lebih perlahan ketika misa dimulai.
Menunggu bisa jadi alasan mengapa napasnya pendek dan cepat. Napas yang hanya terjadi di paru-paru bagian atas itu seperti memompa jantung untuk berdetak lebih cepat juga.
Kondisi yang sama bisa juga terjadi saat sedang berlari atau aktifitas fisik lainnya, atau kegiatan yang membutuhkan fokus dimana tubuh bekerja di bawah kendali sistem saraf simpatetik.
Tekanan yang meningkat di area dada oleh karena pernapasan seperti itu membuat ibu yang duduk di depanku itu sesekali menarik napas lebih dalam. Kesadaran yang muncul lewat tarikan napas panjang itu adalah usaha yang sifatnya berlawanan dari kondisi yang ada, dan semua usaha yang berlawanan akan membawa kenetralan.
Keseimbangan itu serupa titik di tengah-tengah, serupa titik nol yang memisahkan deretan angka positif di sebelah kanannya dan deretan angka negatif di sebelah kirinya. Titik nol itu serupa bidang pencermin dari dua hal yang berlawanan. Sesederhana inilah keseimbangan, meski perwujudannya tak demikian halnya.
Semakin masuk ke ritus semakin tenang, nyanyian yang dilantunkan pun membantu menenangkan dalam embusan-embusan yang panjang. Semakin khidmat semakin damai rasanya, kian tenang ketika berhasil bertaut pada kehadiran diri. Pada keberadaan yang sekedar ada, di titik nol. Titik keberadaan, titik keseimbangan...
Keren tulisannya, di samping asyik bacanya, saya belajar sesuatu juga! Terima kasih!
Terima kasih Bang Joe, sama², selamat berlibur 🙏🏼☺