Tubuh punya kecerdasannya sendiri dan ia selalu punya cara untuk menyeimbangkan dirinya atas segala yang terjadi di luar dirinya dan apapun yang dimasukkan ke dalamnya. Jadi, kedua sistem saraf dalam esai kemarin, simpatik dan parasimpatik, tetap akan selalu bekerja secara otonom. Akses yang dilakukan dari luar lewat sikap tubuh, pernapasan, dan apapun lainnya adalah bentuk bantuan agar ia dapat berfungsi baik seperti default mode-nya. Analoginya mungkin seperti mengembalikannya pada factory setting-nya.
Setiap orang terlahir dengan setelan pabrik yang berbeda-beda. Tidak ada seorang pun yang rumus kimianya sama, meski kembar sekalipun. Inilah mengapa pengenalan diri lagi-lagi menjadi penting, karena segala sesuatunya selalu kontekstual dan tergantung dari diri kita sendiri di waktunya masing-masing.
Kesadaran akan siapa saya lalu jadi pertanyaan yang tak akan habis terjawab. Guruku pernah berkata, 'Yoga is a self investigation'. Yoga dalam kalimat itu bermakna lebih luas dari sekedar gerakan yoga, karena arti yang sebenarnya dari yoga adalah 'union of the self', penyatuan diri, keterhubungan antara tubuh, pikiran dan jiwa dalam satu kesatuan harmoni yang utuh.
Melalui yoga (dalam artian luas) kita akan selalu dibawa kembali ke 'root' kita, kembali ke akar yang jadi dasar dari 'segalanya'. Apapun itu yang menjadi 'segalanya', penglihatan secara utuh akan membantu pemahaman yang lebih mendalam, yang jadi inti dan esensinya.
Pancha Maha Bhuta, atau Five Great Elements yang diyakini sebagai dasar pembentukan alam semesta, adalah alat bantu tertua untuk mengenali diri yang dipakai dalam Ayurveda. Sebagaimana jagad raya tersusun atas ruang, udara, api, air dan tanah, tubuh manusia pun sama terdiri atas lima unsur itu.
Lalu komposisi dari kelima elemen itulah yang jadi pembeda karakter antara satu orang dengan yang lainnya. Setiap karakter memiliki sifat yang unik yang identik dan mudah terpahami secara wujud. Misalnya tanah yang bersifat solid, berbeda dengan elemen lainnya. Atau api yang panas, air yang cair, udara yang bergerak dan ruang yang mewadahi semuanya. Masing-masing spesifik dan perpaduannya yang lalu menjadikan karakter seseorang itu unik.
Lantas setiap pertanyaan 'Mengapa saya kok begini, tidak seperti dia yang begitu' bisa terjawab dengan mudah dengan kacamata ini. Memahami dan mengusahakan diri agar tetap dalam harmoni lantas menjadi seperti ada rumusannya tersendiri.
Kita jadi tak lagi terpaku pada hal-hal detail yang terpisah-pisah, dan jadi bisa melihat seperti sebuah mata yang mengamati dari ketinggian dan melihat banyak hal yang terhubung satu dengan lainnya.
Mungkin dari mata itu juga lantas kita bisa menjawab pertanyaan lain yang sering mengikuti pertanyaan : 'Siapakah saya?', yaitu 'Mengapakah saya ada disini?'
Saat melihat keterhubungan, bisa jadi kita mulai melihat makna dari perbedaan dan fungsinya sebagai kelengkapan. Seperti (lagi-lagi) satu keping puzzle diantara gambar bermakna karya Sang Maha.