"Andaikan pintu kemana saja benar-benar ada," pikirku di kala itu. Aku sangat ingin jalan-jalan ke berbagai tempat di penjuru dunia, Indonesia khususnya. Namun jika aku melakukan perjalanan ke suatu tempat, pasti yang kupikirkan adalah bagaimana cara agar aku menghabiskan waktu tanpa merasa bosan.
Pada suatu hari aku merencanakan perjalanan dari Bandung menuju Bekasi. Kebetulan aku mendapat waktu yang cukup luang dari hari Jumat hingga Senin. “Sesekali pulang menggunakan motor sepertinya menarik,” kataku dalam hati. Aku pun mempersiapkan rute perjalanan dan waktu keberangkatan.
Hingga tiba pada hari yang ditunggu, aku melakukan perjalanan pada pukul 06.00 pagi dari Bandung, udara saat itu masih sejuk dan segar. Di tengah perjalanan terdapat sedikit kendala, kabel gas tiba-tiba putus. Apakah aku merasa cemas? Tentu tidak, aku sudah mempertimbangkan jika terjadi kendala di perjalanan. Dengan dibantu warga sekitar, aku ditemani menuju bengkel terdekat. Usai motor diperbaiki, perjalanan dilanjutkan dengan santai tanpa terburu-buru.
Hal menarik yang kutemui selama perjalanan mulai dari pemandangan alam seperti gunung dan sungai, hingga melewati pedesaan yang terdapat sawah luas, hewan ternak domba, serta sapi yang berada di tengah jalan. Rute yang kulalui tidak sesuai rencana. Aku melewati pedesaan yang secara lokasi tidak jauh dari kota, namun infrastruktur di sana dapat dibilang kurang memadai, seperti tidak adanya sinyal telepon seluler atau kondisi bangunan sekolah yang kurang memadai. Aku berpikir, “Bagaimana cara mereka dapat melakukan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi infrastruktur kurang memadai?”
Aku pun menikmati perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Sesampainya tiba di tempat tujuan, aku menyadari bahwa terkadang diriku terlalu fokus terhadap tujuan sehingga lupa menikmati proses dan perjalanan yang sedang dilalui.