AES06 Masih edisi ngobrol
anaagustina08
Sunday March 16 2025, 9:21 AM

Di minggu ini, banyak sekali situasi yang mengharuskan saya mengobrol dengan banyak orang. Mulai dari murid, orang tua, partner saya, teman ruang tengah, Koordinator Jenjang, SPP Psikologi, kakak kelas anak saya, orang tua kelas anak saya, suami saya, Mama saya, anak saya bahkan tetangga saya. Situasi yang mengharuskan saya menyelesaikan beragam kejadian yang tentu saja saya terlibat di dalamnya. Menyikapi situasi yang berbeda-beda di mana saya harus memposisikan diri sebagai fasilitator yang bijaksana bagi murid saya, menjadi orang tua yang bijaksana bagi anak saya, menjadi istri yang mampu berpikir jernih bagi suami saya alias tidak gegabah, dan menjadi teman yang baik untuk lingkungan saya baik di sekolah maupun di rumah. 

Rasanya capek memang, karena setiap hari saya mengobrol dengan beragam orang, beragam sudut pandang, sehingga mengharuskan saya harus hati-hati ketika mengobrol. Kejadian di kelas sendiri membuat saya dan murid saya menjadi lebih dekat karena kami sering mengobrol dari hati ke hati. Mulai dari situasi pertemanan, kesibukan di sekolah bahkan kesibukan di luar sekolah yang mengharuskan teman-teman ini disiplin dalam menyelesaikan setiap tanggung jawabnya. Minggu ini banyak teman-teman yang menangis. Saya sampaikan kepada mereka bahwa justru dengan menangis dan mengobrol begini jadi kita saling tahu situasi yang sendang dihadapi dan bagaimana menyelesaikannya.

Tak hanya itu, situasi yang saya alami bukan di sekolah saja, tapi di rumah juga. Anak saya dan beberapa temannya berselisih paham sehingga melibatkan orang tua masing-masing anak untuk meminta pertanggungjawaban anak saya. Sebelumnya saya mendengarkan versi anak saya, kami mengobrol banyak hal, dan menemukan titik terang di mana anak saya harus bertanggung jawab dengan meminta maaf karena membuat teman-teman dan orang tuanya merasa tidak nyaman. Awalnya saya merasa takut untuk menghadapi kenyataan bahwa anak saya melakukan kesalahan, yang otomatis saya sendiri melakukan kesalahan, walaupun tidak sepenuhnya salah anak saya. Namun, saya menyadari bahwa dengan bertanggung jawab, walaupun rasanya menyakitkan tapi ketika dihadapi, kemudian akan menyenangkan. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Martina Sudibja pada buku Disiplin dan Cinta, bahwa masalah bukanlah sesuatu yang harus dihindari tapi dihadapi. Masalah yang dihadapi saat ini mungkin menyakitkan, tapi akan menyenangkan di kemudian hari. Masalah diibaratkan sebagai ruang kelas yang menjadi ruang kita untuk belajar. Tidak mudah memang menerima masalah, apalagi masalah yang ditimbulkan oleh diri kita sendiri. Misalnya salah berbicara sehingga orang menangkap apa yang kita sampaikan menyinggung perasaan orang lain, atau salah menyikapi situasi yang sebenarnya kita sendiri tidak melihat kejadiannya. 

Mengobrol dengan beragam orang membuat saya menjadi menemukan banyak referensi, referensi dalam berpikir, bertindak dan menyelesaikan masalah. Persepsi-persepsi negatif yang sebelumnya muncul saya tepis dengan percaya diri bahwa ini memang menyakitkan ketika dihadapi, tapi akan melegakan di kemudian hari. Nyatanya benar, ketika mendapat cerita atau sudut pandang dari partner, teman ruang tengah, orang tua murid, kakak kelas anak saya, suami saya, anak saya, tetangga saya, saya merasa lebih tenang dan lega. Lebih bisa berpikir jernih untuk lebih berani menghadapi situasi yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan mengobrol. Huh... leganya!

You May Also Like