Matahari belum datang meski kata mbah Oyeng ini sudah pagi. Dari jendela yang bambu yang terbuka, tampak di luar hanya gelap semata.
Mbah Oyeng masih duduk di dingklik kayu sonokeling yang telah usang.
Kata Bapak, barang-barang di rumah Mbah Oyeng lebih tua dari usia Tius.
Mbah Oyeng tampak tekun membolak-balik kayu bakar yang setengah bagiannya masuk ke dalam tungku batu bata. Bara api menyibak dingin pagi dengan tariannya yang menghanguskan pantat panci.
"Mbah, gantian Tius!" ujar Tius pada Mbah Oyeng yang segera membuat mbah Oyeng beranjak ke tungku lain berisi penggorengan.
Tius duduk di dingklik dan membolak-balik lontong nasi yang tenggelam dalam air mendidih.
Sementara itu, Mbah Oyeng mencetak bakwan dengan spatula bulatnya. Kadang-kadang Tius juga ikut mencetak bakwan, sambil makan bakwan yang sudah matang.
Gelap belum larut, belum ada sorot cahaya dari celah dinding anyaman bambu. Karena dinding rumah Mbah Oyeng terbuat dari anyaman bambu yang banyak celahnya, suara di luar rumah lebih jelas terdengar.
"Wuk... wuuuk.... wuk!" begitu suara yang sering terdengar dari atas dapur Mbah Oyeng. Di sana ada pohon jambu air dan kedongdong yang sangat tinggi.
Kata Mbah Oyeng itu suara manuk wuk. Agar manuk wuk pergi, Mbah Oyeng segera mengambil sejumput rambut rontok yang sering ia kumpulkan seusai menyisir, untuk dibakar.
"Manuk wuk tidak suka aroma rambut yang dibakar." kata Mbah Oyeng sambil mengintip ke jendela.
Ajaib! suara manuk wuk tidak terdengar lagi. Kalau kata Mbah Ndut, manuk wuk itu burung hantu.